GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
INVENTARISASI BANGUNAN EROPA: Gedung Bank Indonesia (BI) berarsitektur lama dan yang berarsitektur baru terlihat selaras dan harmonis, Selasa (17/2). Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Jogjakarta menyiapkan kajian terhadap bangunan berarsitektur Eropa yang tersebar di wilayah Kota Jogja sebagai upaya penyusunan “guide line” pengembangan bangunan atau kawasan
JOGJA – Pemkot Jogja akan mendata bangunan etnis Eropa yang berada di seluruh kota ini. Dengan pendataan tersebut, nantinya bisa menjadi acuan untuk pembangunan bangunan baru yang harus diselaraskan dengan bangunan lama.Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja Edy Muhammad, selama ini bangunan yang menjadi acuan Kota Jogja kebanyakan ke bangunan Keraton. Tetapi, ternyata di kawasan tertentu terdapat banyak bangu-nan tipologi lain. “Seperti bangunan fisik etnis Eropa, Pecinan atau arsitektur alam, yang juga turut mewarnai sejarah tumbuhnya Kota Jogja,” jelas Edy kemarin (17/2). Untuk itu, tahun ini Bappeda Kota Jogja akan mela-kukan inventarisasi bangunan etnis Eropa di Kota Jogja
Selain untuk menghitung jum-lah total bangunan etnis Eropa, pendataan juga untuk mengeta-hui tipologi bangunan, tahun pembangunan, fungsi serta nilai historisnya. Menurutnya, untuk bangunan etnis Eropa banyak ditemukan di kawasan Kotabaru.Edy menjelaskan nantinya hasil pendataan juga akan menjadi pegangan bagi pengambil kepu-tusan perizinan pembangunan bangunan baru. Pihaknya ber-harap, bangunan baru yang dibangun bersebelahan atau berdekatan dengan bangunan lama, harus harmonis dan selaras. Ia mencontohkan gedung Bank Indonesia (BI) baru dan lama, yang tampak harmonis. “Pen-dataan ini juga untuk melin-dungi kerusakan di kawasan serta memberikan kekhasan di wilayah,” terangnya.
Kepala Sub Bidang Litbang Sarana Prasarana dan Tata Ruang Bappeda Kota Jogja Teguh Se-tiawan menjelaskan, hasil pen-dataan yang dilakukan bisa men-jadi masukan dan rekomendasi bagi arsitek yang akan membangun bangunan baru di dekatnya. Setelah pendataan bangunan etnis Eropa ini, pihaknya juga akan merencanakan pendataan bangu-nan etnis di kawasan lain. “Tahun lalu kami sudah melakukan peng-kajian di kawasan Baciro,” tuturnya.Teguh mengakui di Kota Jogja memang banyak bangunan dengan etnis Eropa. Paling ba-nyak memang berada di kawasan Kotabaru. Tipenya pun beragam, seperti gaya arsitektur indis, art deco, jengki hingga klasik. “Bangunan Keraton Jogja juga tidak lepas dari ornamen Eropa,” terangnya. (pra/laz/ong)