FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
MASIH DARURAT: Atap kantor DPPKD Kota Magelang masih belum diperbaiki.
MAGELANG – Kalangan Komisi A DPRD Kota Magelang me-nyayangkan penanganan akibat angin puting beliung yang me-nimpa atap Kantor Dinas Pen-dapatan dan Pengelolaan Ke-uangan Daerah (DPPKD) Kota Magelang Minggu sore (8/2). Karena, 10 hari berlalu, per baikan atap belum juga dilakukan. Atap asbes yang dibawa terbang oleh angin hanya digantikan dengan terpal. Karenanya, saat hujan turun gedung masih bocor. Sementara, pelayanan di lantai 1 masih berjalan.”Kenapa tidak segera dilakukan perbaikan. Gedung DPPKAD kan sangat vital. Pelayanan kantor dan pelayanan masyarakat ba-nyak dilakukan dinas tersebut. Dengan hanya mengganti atap asbes dengan terpal, air masih bisa masuk dan itu mem-bahayakan bagi arsip-arsip dan dokumen di lantai 1 yang masih buat pelayanan,” kritik Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Ma-gelang HIR Jatmiko kemarin (17/2
Ditambahkan Iwan Soe-radmoko, Anggota Komisi A DPRD Kota Magelang lainnya, harus-nya dengan dana tak terduga (DTT) yang mencapai Rp 27 miliar lebih, Pemkot Magelang segera melakukan perbaikan atau penanggulangan terhadap bencana. Apalagi, hal tersebut menyangkut layanan kepada masyarakat.”Dana tak terduga-nya kan banyak. Kayaknya sampai mi-liaran lho. Kenapa tidak segera ada penanganan,” sindir pria yang jugaSekretaris Fraksi PDIP ini.
Sementara itu, Agus Susatyo, anggota Komisi A DPRD Kota Magelang lainnya meminta, pihak eksekutif melakukan kajian me-nyeluruh terhadap jebolnya atap gedung DPPKD. Karena, pihaknya melihat tidak sekedar persoalan force majeure atau bencana saja. Tetapi, juga kemungkinan adanya kesalahan dalam struk-tur rangka baja ringan maupun pilihan atap asbes.”Logikanya, kalau persoalannya bencana alam saja. Tidak hanya atap gedung DPPKD saja yang terkena dampak. Karena, biasanya angin lesus itu membentuk satu garis lurus. Faktanya gedung lain tidak terkena. Bisa saja, ada ke-salahan dalam kualitas asbes yang dipasang,” kritiknya.Agus yang pernah menjabat Plt Kepala DPU ini menilai, salah satu kelemahan dari penggunaan baja ringan sebagai kuda-kuda adalah soal daya lekat atap. Di-gunakannya asbes membuat kuncian atap dengan baja ringan mudah lepas. Dampaknya, be-gitu satu atap lepas, langsung disusul atap lainnya.”Persoalan kemiringan atap juga harus dilihat. Ketika ke-miringan di atas 30 derajat, ke-tika ada tekanan, akan menjadi nol,” jelasnya.
Seperti diketahui, ribuan do-kumen maupun alat kerja DPKKD rusak dan tidak bisa digunakan.Setelah atap kantor yang berada di kompleks Pemkot Magelang tersapu puting beliung dan hujan deras, pada Minggu sore (8/2). Saat ini, tindakan darurat hanya dengan melakukan penutupan atap dengan terpal oleh se jumlah pekerja.”Ditutup dengan terpal karena tidak ada penguatnya, mem-buat pada titik-titik tertentu air berkumpul. Ini justru memba-hayakan,” kata Petugas DPPKD.
Saat kejadian, ruangan di lantai atas atau lantai 2 sempat te rendam hingga mata kaki. Tidak hanya itu, plafon di bawahnya juga ikut jebol dan rusak, karena hujan deras turun. Ditambah, ins talasi listrik maupun jaringan kom-puter ikut rusak, karena berada di atas plafon. Kini, ruangan bidang akun-tansi, anggaran, perimbangan, dan sektretariatan, termasuk ruangan Kepala DPPKD tidak bisa digunakan. Untuk semen-tara, bidang akuntansi direlo-kasi ke ruang rapat di Lantai I Gedung Setda. Ini mengingat bidang ini tengah mengerjakan laporan keuangan daerah yang harus segera diselesaikan dalam waktu dekat.”Lainnya, kami masih menung-gu keputusan pimpinan. Se-karang, kami mendata dan men-dokumentasikan kerusakan ini. Kerugian sekitar Rp 400 juta, belum termasuk perangkat kom-puter yang barangkali juga rusak,” ungkapnya Kepala DPPKD Pem-kot Magelang, Larsita.
Pria yang membawahi 85 pegawai ini berharap, ada langkah strategis membenahi persoalan tersebut. Apalagi, bencana itu juga meluluhkan empat ruang penting. Antara lain bidang akuntansi, anggaran, perimbangan, dan sektretariatan. Ia menyebut, total ada 50 pegawai yang kese-hariannya beraktivitas di lantai dua.”Saya harapkan ada alokasi dari dana tak terduga (DTT) untuk menormalisasikan bangu-nan yang rusak. Apalagi dari sisi teknisnya, sebenarnya gedung ini sangat penting,” katanya. (dem/hes/ong)