JOGJA – Selama 2014, Kantor Perwakilan Bank In-donesia (KPBI) Wilayah DIJ mengklaim jumlah pere-daran uang palsu (upal) di DIJ mengalami penurunan. Itu jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kepala KPBI DIJ Arief Budi Santoso memaparkan, pada 2013 penemuan upal sebanyak 7.662 lembar upal. Terdiri dari 7.379 lembar pecahan Rp 100 ribu dan 225 lembar pecahan Rp 50 ribu serta sisanya pecahan Rp 20 ribu. “Pada 2014 temuan upal sebanyak 1.960 terdiri dari pecahan Rp 100 ribu sebanyak 1.391, pecahan Rp 50 ribu sebanyak 492 dan sisanya pecahan Rp 20 ribu,” kata Arief ditemui di Eastparc Jogjakarta, Selasa (17/2).
Arief menjelaskan, peredaran jumlah uang palsu per seribu lembarnya untuk kawasan DIJ terbilang sangat kecil. Dari seribu lembar hanya dua lembar uang palsu. “Ini disebabkan jaringan pengedar semakin sulit mencari celah. Pengetahuan masyarakat untuk membedakan uang asli dan palsu semakin baik,” katanya.Arief mengatakan, Jogjakarta selama ini hanya menjadi target peredaran upal. Bahkan, temuan upal yang dilaporkan ke BI, justru kebanyakan berasal dari luar DIJ. Menurut Arief, pemahaman pengetahuan masyarakat terhadap uang palsu di DIJ sudah mencapai pada tingkat yang paling rendah. Bahkan, para pedagang di pasar-pasar tradisional dapat membedakan keberadaan uang palsu dan asli.
Saat disinggung peredaran upal di Kulonprogo, Arief mengaku belum mendapatkan laporan tersebut. Hanya saja, jika dilakukan oleh oknum pelajar, menurut Arief, hal tersebut menandakan bahwa para jaringan mulai menyasar orang-orang yang selama ini sulit untuk dicurigai.”Mereka memanfaatkan jaringan-jaringan yang tidak diperkirakan. Kalangan pelajar susah diper-kirakan,” terangnya.Arief mengatakan, dengan tertangkapnya pengedar upal di Kulonprogo, pihaknya akan melakukan sosial-isasi lebih gencar lagi. Diakui Arief, selama ini KPBI DIJ melakukan sosialisasi sebatas di daerah DIJ. Se-dangkan peredaran di Jawa Tengah belum dilakukan, sehingga melalui kawasan tersebut upal masuk ke DIJ. “Mau tak mau kami harus menjangkau Jawa Tengah bagian selatan. Sebab untuk di bagian DIJ sosialisasi sudah cukup berhasil. Faktor pendidikan, pemahaman dan sosialisasi sudah menyentuh banyak kalangan,” terangnya. (bhn/ila/ong)