DWI AGUS/RADAR JOGJA
MAKE YOUR MOVIE: Roadshow kompetisi film bertajuk Anti Corruption Film Festival (ACFFest) 2015 di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta (17/2).
JOGJA – Meski saat ini kondisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berada di ujung tanduk, semangatnya tetaplah mem-bara. Konsistensi lembaga antirasuah ini terbukti dalam penyelenggaraan kom-petisi film bertajuk Anti Corruption Film Festival (ACFFest) 2015.Jogjakarta menjadi salah satu kota yang dikunjungi ACFFest 2015. Roadshow ini digelar di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta (TBY), (17/2).
Acara ini dihadiri Direktur Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK Dedie A, Rachim, perwakilan ACFFest Ari Nugroho dan sineas Bowo Leksono.”Jogjakarta menjadi salah satu kota yang memiliki potensi dunia kreatif perfilman. Selain di sini akan ada roadshow juga ke Solo, Surabaya, Aceh, Indramayu, Lam-pung, Sumbawa, Pontianak dan Kendari,” kata Ari Nugroho.
Ari mengatakan ACFFest telah menjadi sebuah tren baru memerangi korupsi. Penggunaan media film diakuinya lebih efektif memerangi korupsi. Baik terwujud dalam edukasi, pencengahan atau doku-mentasi proses terjadinya korupsi.Menurutnya, KPK tidak hanya sebagai lem-baga, namun semangat dan gerakan melawan korupsi. Dari tahun ke tahun respons masy-arakat pun meningkat, sebagai catatan di tahun awal 2013 mampu menjaring 181 pe-serta. Sedangkan dalam ACFFest 2014 mam-pu mengumpulkan 333 peserta.
“Semangat inilah yang wajib kita jaga konsistensinya. Ada kategori citizen jour-nalism ternyata mampu membuka mata kita semua. Korupsi sudah mewabah di kehidupan kita hingga ke ranah yang sangat kecil,” katannya.
Direktur Direktorat Pendidikan dan Pe-layanan Masyarakat KPK Dedie A, Rachim mengaku kagum akan semangat para sineas. Dengan kacamata film, kampanye antiko-rupsi dirasa sangat pas. Terlebih segmen film lebih merata bahkan jangkauannya luas.Selain itu, para sineas ini menurutnya dituntut kreatif dalam menyikapi sebuah isu.
Membungkusnya dalam sinemato-grafi untuk dihadirkan lebih menarik. Da-lam pengamatannya proses ini turut me-rangsang kekritisan para generasi muda.”Dampaknya positif tidak hanya dunia perfilman namun juga bagi bangsa kita. Men-jaga diri untuk tidak korupsi memang tidaklah mudah karena banyak godaan dalam ber-bagai bentuk. Tapi tetap harus dilakukan terutama untuk menjaga tatanan khususnya hukum di Indonesia ini, salah satunya dengan film,” katanya. (dwi/laz/ong)