RADAR JOGJA FILE
PERTANIAN: NTP di DIJ mengalami kenaikan, semakin tinggi nilai NTP maka kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani. Terlihat area persawahan di Kabupaten Bantul, belum lama ini
JOGJA – Berdasarkan hasil pemantauan harga di pedesaan di DIJ pada Januari 2015, nilai tukar petani (NTP) mengalami ke-naikan indeks sebesar 0,75 persen. Itu jika dibandingkan NTP Desember. Besaran NTP pada Januari mencapai angka 100,40, sedangkan dari bulan sebelumnya terca-tat 99,65 persen.Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ Bambang Kristianto memaparkan, naiknya angka NTP disebabkan indeks harga pro-duk pertanian yang diterima petani meng-alami kenaikan. Sebaliknya, indeks harga barang dan jasa yang dibayar petani meng-alami penurunan.
Dia memaparkan naiknya angka NTP Ja-nuari disebabkan oleh naiknya NTP di sub-sektor perikanan yang mengalami kenaikan sebesar 1,80 persen. Diikuti subsektor pe-ternakansebesar 1,01 persen dan subsektor holtikultura naik sebesar 0,91 persen.”Namun berbeda dengan subsektor lain-nya, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan sebesar 0,07 persen,” kata Bambang, kemarin (18/2).Dijelaskan keberadaan NTP menunjuk-kan daya tukar antara produk pertanian yang dijual petani dengan barang dan jasa yang dibutuhkan petani. Termasuk dalam berproduksi dan konsumsi rumah tangga.
Dengan membandingkan kedua perkembangan angka tersebut, maka da-pat diketahui apakah peningkatan penge-luaran untuk kebutuhan petani dapat dikompensasi dengan pendapatan petani dari hasil pertaniannya. “Semakin tinggi nilai NTP, semakin kuat pula tingkat ke-mampuan daya beli petani,” terangnya.
Sementara itu, pada Januari 2014 pihaknya melakukan observasi terhadap 71 transak si gabah di DIJ. Tercatat, sebanyak 54,93 persen berkualitas gabah kering panen (GKP) sedangkan sisanya sebesar 45,07 persen berkualitas rendah.Dibanding dengan Desember tahun lalu, tambahnya, rata-rata harga gabah kualitas GKP mengalami penurunan 3,72 persen menjadi Rp 4.770 per kilogram di tingkat petani dan turun 3,68 persen men-jadi Rp 4.820 di tingkat penggilingan.
Se-dangkan rata-rata harga gabah kualitas rendah juga turun sebesar 11 persen men-jadi Rp 3.948 per kilogram di tingkat pe-tani dan turun 10,87 persen menjadi Rp 3.998 per kilogram di tingkat penggilingan. “Harga gabah tertinggi di tingkat petani senilai Rp 5.950 per kilogram pada gabah kualitas GKP dengan varitas Ciherang terjadi di Sleman. Sebaliknya gabah te-rendah di tingkat petani senilai Rp 3.200 per kilogram dengan gabah kualitas ren-dah varitas IR64 terjadi di Sewon, Bantul,” tutupnya. (bhn/ila/ong)