ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
AKIBAT DENDAM: Dua di antara pelaku penyekapan dan penyiksaan terhadap LA yang menyerahkan diri dengan diantarkan keluarganya kemarin (18/2) sekitar pukul 02.00.
BANTUL – Akar persoalan kasus penyekapan dan penyiksaan terhadap LA, 18 sedikit terurai lagi. Selain per-saingan tato, nekatnya para remaja putri melakukan tindakan nekat terhadap salah satu siswa di sekolah menengah atas di Jogja ini ternyata dipicu dendam. Kapolres Bantul AKBP Surawan mengatakan, jumlah pelaku yang berhasil diamankan bertambah dua lagi, yaitu Wr dan Pd. Keduanya menyerahkan diri dengan diantarkan keluarganya kemarin (18/2) sekitar pukul 02.00. Sehingga pelaku yang berhasil diamankan sampai saat ini berjumlah empat orang.
Dua pelaku yang tertangkap sebelumnya adalah Nk, dan Ic. “Dua tersangka ikut penyiksaan. Yang satu ikut memukul dan satunya menyundut rokok,” terang Surawan di kantornya.Kedua tersangka ini menyimpan dendam cukup lama kepada LA. Ini karena LA pernah melakukan tindakan yang dinilai merugikan kedua tersangka. Bahkan, salah satu di antaranya pernah ditendang LA. Surawan menerangkan, kedua tersangka ini baru ikut melakukan penyiksaan Jum’at (13/2) atau keesokan harinya setelah penyekapan. “Mereka ikut merencanakan (penyekapan dan penyiksaan) juga,” ujarnya.
Namun demikian, kata Surawan, tindakan LA kepada dua tersangka dengan penyekapan dan penyiksaan terhadap LA merupakan kasus berbeda. Jika memang kedua tersangka ini memiliki bukti dipersilakan untuk melapor kepada polisi.Berdasar hasil pemeriksaan, se-gerombolan remaja putri ini bukanlah geng. Meskipun sehari-hari mereka sering berkumpul, nongkrong bersama, dan punya kesamaan hobi merajah tubuh. “Mereka (korban dan pelaku) saling kenal dan berteman. Mereka dari latar belakang dan pendidikan berbeda,” ungkapnya.
Meskipun tidak dikategorikan negatif, Surawan mengaku heran dengan hobi merajah tubuh para remaja putri ini. Apalagi, LA dan ketiga pelaku lainnya tercatat masih berstatus sebagai pelajar. “Pengawasan orangtua sangat penting. Nggak mungkin guru membuka satu persatu pakaian siswanya (untuk memeriksa tato),” tandasnya.Kasat Reskrim polres Bantul AKP Kasim Akbar Bantilan menambahkan, petugas tidak mengalami kesulitan memburu kelima pelaku yang masih buron. Toh, petugas juga sudah me-ngantongi identitas mereka. Hanya saja, persembunyian mereka sejauh ini memang masih belum ditemukan. “Mau lari kemana mereka itu?,” tandasnya.
Pd, salah satu pelaku yang menyerah-kan diri mengaku menyimpan dendam terhadap LA. Selama berteman dengan LA, Pd pernah dipermalukan di depan umum dengan cara dilempar makanan. Tak hanya itu, LA juga pernah memukulnya. “Orangnya suka buat masalah dan cari-cari masalah. Saya juga pernah dikeroyok sama gerom-bolannya,” ungkap siswi di salah satu SMA di Jogja asal Kasihan, Bantul ini. (zam/din/ong)