FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
RESEP ORANG TUA: Pekerja Catering Sari Rasa mengolah kue keranjang. Mereka menggunakan daun pisang dan bisa tahan selama tiga bulan, meski tanpa bahan pengawet
MAGELANG – Perayaan Tahun Baru Imlek 2566 biasanya selalu tersedia Kue Keranjang. Banyak pembuat kue tersebut di Kota Magelang. Salah satunya, Catering Sari Rasa di Jalan Brigjen Katamso Nomor 11.Sudah sejak sebulan ini, Careing Sari Rasa memproduksi kue keranjang berdasar pesanan dan pembelian langsung. Kenapa banyak yang me-milih di sini? Salah satu keunggulan-nya adalah kemasannya.
Di tempat ini, tidak menggunakan pembungkus plastik, melainkan daun pisang. Se-hingga rasa dan aromanya cukup khas. Demikian pula cara memasaknya, masih mempertahankan tradisi dengan mengukus bersama daunnya.”Rasanya masih orisinil, ada aroma daunnya juga,” kata Pemilik Catering Sari Rasa, Juliawati, 49, kemarin (18/2).Untuk membuat bungkus dari daun pisang, tidak sembarang orang bisa melakukannya. Karena dibutuhkan ketrampilan khusus. Kalau tidak terampil, bungkus daun bisa bocor.”Cukup rumit, tapi ini demi men-ghasilkan mutu prima,” imbuhnya.
Perempuan yang akrab disapa Cik Julien ini mengaku, mendapatkan resep kue keranjang dari orang tuanya yang mulai memproduksi kue ke-ranjang sejak 60 tahun silam. Mulai proses menggiling tepung, nguleni atau mencampur tepung ketan dengan gula pasir, membungkus, hingga mengukus.”Untuk nguleni biasanya dilakukan pria. Karena butuh tenaga yang cukup kuat,” tegasnya.Satu kue keranjang bisa enak ka-rena adonan tepung ketan dan gula didiamkan semalam agar mengembang dan lebih enteng saat diaduk. Ia juga tidak menambahkan bahan pengawet.”Meski tanpa pengawet, kue keran-jang bikinan kami bisa tahan hingga tiga bulan. Bahkan bila disimpan di dalam kulkas, bisa tahan sampai setahun. Karena cara pengolahan dan bahan-bahan yang digunakan cukup diperhatikan,” katanya.
Pemesan tidak hanya datang dari Magelang. Namun dari luar kota. Ba-hkan, hampir seluruh Indonesia. Dalam sehari, produksi kue keranjang meng-habiskan bahan dasar tepung ketan 500 kg. Ada dua varian rasa yang diha-silkan. Yakni, rasa original dan cokelat.”Anak-anak muda lebih suka yang rasa cokelat. Sedang orang tua me-nyukai rasa original,” katanya.Salah satu problem dalam pembua-tan kue keranjang adalah kesulitan bahan baku berupa beras ketan dalam jumlah banyak dari satu toko atau grosir. Hal itu disiasati dengan menge-rahkan orang untuk membeli beras dari petani langsung atau pengecer-pengecer kecil. Mengingat yang di-gunakan adalah beras ketan jawa. Pernah mencoba menggunakan ketan impor, namun tidak bisa jadi kue ke-ranjang seperti yang diharapkan.”Kami menggiling sendiri tepung ketan, sehingga bisa dikontrol kua-litasnya,” paparnya.
Bagi kalangan Tionghoa, kue ke-ranjang (ada yang menyebutnya kue ranjang) merupakan makanan yang wajib disantap setiap tahun baru Imlek. Kue ini mulai digunakan se-bagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek (Ji Si Sang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah tahun baru Imlek). Kue ini dipercaya sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku (Cau Kun Kong) agar membawa laporan yang menyenangkan pada raja Surga (Giok Hong Siang Te).
Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang meraya-kan Imlek terus bersatu, rukun, dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Ada pula yang mempercayai, kue keranjang sebagai hidangan yang manis agar kehidupan mereka selalu manis pada tahun mendatang. (dem/hes/ong)