BAHANA/RADAR JOGJA
PANGAN: Prof FG Winarno (tengah) saat penyelenggaraan International Youth Conference on Tempe 2015 digelar di Sheraton Hotel belum lama ini.
SLEMAN – Tempe merupakan ma-kanan asli Indonesia yang tak ternilai harganya. Meski begitu, terkadang tempe seringkali disepelekan oleh bangsa sendiri. Namun nyatanya, ke-beradaan tempe di luar negeri telah diakui manfaatnya. Bahkan beberapa negara seperti Jepang dan Inggris telah melakukan penelitian terhadap tempe mengenai khasiat yang dimiliki.Besarnya manfaat makanan ber-bahan kedele tersebut, International Youth Conference on Tempe mendo-rong tempe masuk dalam sajian makanan elit. Hal tersebut disam-paikan oleh Ketua Komisi Ilmu Re-kayasa Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof FG Winarno kepada wartawan usai penyeleng-garaan Konferensi International yang digelar di Sheraton Hotel, Selasa malam (17/2) lalu.”Tempe sebagai warisan lokal, bisa disajikan sebagai high end misalnya disuguhkan bagi tamu-tamu negara,” kata Winarno.
Menurut Winarno, tempe merupa-kan peninggalan teknologi pangan yang tak ternilai harganya. Diketahui, keberadaan tempe ditemui pada serat Centini. Dalam serat tersebut dice-ritakan hal ikhwal kehadiran tempe.Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia International Confe-rence on Tempe 2015 ini menyatakan selama beberapa tahun terakhir, in-formasi tentang kandungan dan man-faat tempe cukup banyak beredar di masyarakat. Meski begitu, masih ba-nyak hal yang belum diketahui ter-kait tempe. Dia mengatakan, untuk membahas berbagai hal terkait tem-pe, pada konfrensi kali ini, pihaknya mengundang sejumlah ahli pangan dari Indonesia dan beberapa negara lain. Sebut saja ahli dari Thailand, Korea Selatan, dan Prancis. Perwaki-lan sejumlah perusahaan yang mem-produksi produk turunan tempe dan produk yang terkait juga diundang.Winarno menyebut tempe sangat berpotensi dikembangkan menjadi makanan dengan beragam bentuk dan manfaat.
Sejumlah manfaat tem-pe yang pernah diteliti antara lain adalah dapat mengurangi kadar ko-lesterol dalam darah. Juga mening-katkan ketahanan tubuh, dan men-cegah serta mengobati diare.”Oleh karena itu, para ahli Indone-sia harus mengembangkan kerja sama dengan peneliti dari negara lain untuk meneliti berbagai hal soal tempe,” tutur Winarno.Sementara itu, pengusaha tempe asal Indonesia yang memiliki peru-sahaan di Jepang Rustono mengatakan di Jepang tempe menjadi makanan Indonesia yang dapat diterima oleh masyarakat di sana. Bahkan, bisa me-nyisihkan beberapa makanan khas negara tersebut. “Ini karena tekstur kedele bisa diterima oleh lidah orang Jepang,” terangnya.
Dari hasil usahanya selama 16 tahun dibidang tempe inilah, kini dia me-miliki distributor tidak hanya di Jepang tetapi sudah meluas ke Meksiko dan Prancis. Sementara itu, Asisten Per-ekonomian dan Pembangunan Se-kretaris Daerah DIJ Didik Purwadi dalam sambutannya menyampaikan pada masa lalu tempe sering dipandang secara negatif. Masih ada anggapan tempe sebagai makanan masyarakat kecil yang tidak memiliki gizi. Ada juga anggapan tempe merupakan makanan tidak higienis karena proses pembuatannya.”Kini tempe mulai dikenal sebagai makanan bergizi yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan manusia. Salah satu kandungan tempe adalah vitamin B12 yang berguna menjaga kesehatan sistem saraf serta mempro-duksi energi,” katanya. (bhn/ila/ong)