MUNGKID – Langkah besar dilakukan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Se-marang. BPOM menggerebek pabrik mi berformalin di Dusun Manggisan, Banjarnegoro, Mer-toyudan, kemarin (18/2). Hasil-nya, petugas mengamankan 220 kg mi berformalin siap edar dan beberapa peralatan produksi.Enam personel anggota tim BPOM mendatangi Desa Banjar-negoro, Mertoyudan sekitar pukul 09.30. Mereka memasuki rumah yang didesain seperti pendopo tersebut. Di sini, mereka mene-mukan pabrik di belakang rumah. Tidak ada perlawanan berarti saat penggerebekan dilakukan.”Tadi pagi, kami proses penyi-dikan ternyata benar. Setelah dites dengan kit, mi positif mengandung formalin,” kata Pimpinan rombongan dari BPOM Semarang Arie Wijayanti.
Selain membawa mi formalin siap edar 220 kg, barang bukti lain yang dibawa adalah alat potong dan timbangan yang mendukung kegiatan produksi. Di lokasi kejadian, tim BPOM juga langsung memeriksa bebe-rapa pekerja. Dari pengakuan pekerja, pemilik pabrik mi ber-formalin tidak ada di rumah. Ia mengungkapkan, penggere-bekan bermula dari laporan ma-syarakat sekitar soal peredaran mi berformalin. Berangkat dari itu, pihaknya menyelidiki hingga beberap bulan. Sesuai laporan masyarakat, produksi mi berfor-malin itu ada di pinggir tempat pemakaman umum Dusun Mang-gisan, Banjarnegoro.”Sesuai aturan, pelaku diproses dengan pasal 136 Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan. Pabrik kami tutup,” tegas PPNS BPOM Semarang ini.
Pihaknya menduga, dalam sehari pabrik ini memproduksi hingga 500 kilogram mi basah. Saat digerebek, ada tiga orang karyawan yang tengah mempro-duksi mi basah. Sejumlah barang bukti dan pemilik pabrik mi ber-bahaya ini selanjutnya diproses di BPOM Semarang Jawa Tengah.Firman, anggota tim lainya men-jelaskan, sebelum menggerebek, BPOM mengintai pabrik ini dalam beberapa bulan terakhir. Kasus ini masih proses penyelidikan dan terus memeriksa para saksi. Ber-dasar informasi, mi formalin ter-sebut beredar di beberapa daerah, baik di Jateng dan Jogjakarta.”Kami masih mengembangkan kasus ini dan memeriksa pemilik rumah. Ada kemungkinan pemilik pabrik merupakan residivis dengan inisial UP.
Dulunya, ia pernah di-tangkap kasus serupa dan sudah berkekuatan hukum tetap,” tegasnya.Mustofa, 49, salah satu pe-kerja mengaku, tidak tahu soal mi yang diproduksinya mengan-dung formalin. Ia baru bekerja selama empat hari yang lalu. Setiap hari memproduksi mi 4-5 sak. Dari jumlah itu bisa meng-hasilkan 2 kuintal mi basah yang siap edar. (ady/hes/ong)