GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SEMBAHYANG: Warga menyalakan dupa saat sembahyang menjelang Tahun Baru Imlek 2566 di Klenteng Poncowinatan, Jogjakarta, tadi malam (18/2).
Tahun baru Imlek 2015 telah tiba. Tahun ini dilambangan dengan kambing kayu, yakni tahun yang dalam prediksi kurang mengutungkan bagi yang bershio kambing, kerbau, naga, dan anjing. Selain itu, sama dengan tahun lalu, tahun ini juga masih akan diwarnai berbagai gejolak.
DALAM perhitungan kalender Ti-onghoa, tahun ini merupakan tahun baru Imlek 2566 yang dilambangkan dengan kambing kayu. Pergantian tahun ini menjadi pengharapan baru untuk hidup lebih beruntung, sejah-tera, panjang umur, dan bahagia.Banyak kejadian yang silih bergan-ti telah mengisi tahun 2014, yakni tahun yang dilambangkan dengan kuda. Gejolak tahun berlambang kuda kemarin, masih terasa hingga memasuki pergantian tahun ini. Hal itu seperti yang diutarakan pe-ngurus Klenteng Poncowinatan Jogja, Margo Mulyo. “Awal tahun baru ini masih akan bergejolak, karena ada bawaan dari unsur kuda tahun lalu. Misalnya bencana, tahun ini pun ma-sih ada,” ujar Margo, panggilan akrab-nya.
Menurutnya, tahun ini tidak ber-beda jauh dengan tahun lalu. Ben-cana masih akan terjadi. Bencana akan terjadi, disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Yang dilakukan seseorang bisa berdampak bagi orang lain. “Untuk itu, tahun ini lebih baik untuk bersikap bijak dan lebih me-medulikan alam,” ujarnya.Dirinya menerangkan, segala hal yang tidak baik tahun ini munculnya dari barat
Misalnya bencana, itu bisa terjadi dan ditimbulkan dari arah barat.”Harus banyak berdoa, harus banyak memohon, agar tidak parah dan di luar dugaan,” tan-dasnya.Dirinya menambahkan, orang yang bershio kambing, kerbau, naga dan anjing, tahun ini pe-runtungannya kurang bagus. Untuk itu, dirinya menyarankan untuk selalu waspada, kalau perlu diruwat. Ruwat bisa me-minimalisir berbagai hal yang tidak bisa diprediksi.”Waktu ruwat, baiknya sebelum perayaan tahun baru selesai, atau sebelum atau saat Cap Go Meh,” tuturnya.
Di bagian lain, Jogjakarta sel-alu berbeda tiap kali perayaan tahun baru Imlek. Memasuki tahun ke sepuluh, momen tahun baru yang dimulai di hari per-tama bulan pertama di penang-galan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh ini, sema-kin meriah dengan hadirnya Pekan Budaya Tionghoa Yogya-karta (PBTY).Kegiatan seni dan budaya yang diinisiasi Jogja Chinese Art Cul-ture Centre (JCACC) ini dari tahun ke tahun terus berkembang. Di setiap perhelatannya, PBTY tidak melulu hanya mengangkat, melestarikan dan memperke-nalkan kepada masyarakat luas tentang budaya Tionghoa. Ka-rena 70 persen kontennya merupakan seni budaya nusantara.
Tahun baru Imlek hanya menjadi sebuah momentum, karena membentuk sebuah keluarga besar dengan merangkul semua sisi dan go-longan yang ada di Jogjakarta. Itu lah semangat mendasar adanya PBTY. Seperti ide Gu-bernur DIJ Sri Sultan Hameng-ku Buwono X agar Jogja men-jadi City of Tolerant. Setiap ta-hunnya, bersama 14 paguyuban Tionghoa yang ada di Jogja, JCACC berupaya mengemas PBTY men-jadi sajian yang benar-benar milik rakyat. PBTY setiap tahun-nya dimeriahkan oleh serang-kaian kegiatan seni budaya, seperti pameran budaya, atrak-si liong samsi, naga barongsai, wayang potehi, karnaval kirab budaya, Jogja Dragon Festival, lomba karaoke, panggung hibu-ran, bazar kuliner dan pernik-pernik Imlek. PBTY selalu me-nyulap Kampung Pecinan Ke-tandan jadi pasar rakyat.
Di luar rutinitas tersebut, ke-giatan yang sudah diseleng-garakan sejak 2006 ini, sudah membubuhkan sederet rekor, antara lain memecahkan rekor MURI dengan Naga Lampion raksasa sepanjang 130.6 meter pada PBTY 2010, serta mempe-roleh anugerah MURI untuk gunungan kue keranjang se-tinggi 2,56 meter dengan 6.666 kue pada PBTY 2013. Untuk tahun ini, PBTY menyi-apkan naga batik raksasa sepan-jang 150 meter yang siap beraksi pada pembukaan PBTY ke-10 pada 1 Maret 2015 mendatang.”Naga sebagai ikon PBTY, setelah tahun lalu naga lampion raksasa dilarung, tahun ini kita siapkan naga yang baru,” ujar Ketua Umum JCACC Tendean Hari Setya.
Naga raksasa dengan aplikasi motif batik ini rencananya di-mainkan oleh 200 personel TNI AU Lanud Adi Sutjipto. Naga raksasa yang juga sudah didaf-tarkan ke MURI dengan panjang 150 meter ini memiliki desain klasik khas yang disebut dengan Liong Jogja.Hari menuturkan, bukan se-buah rekor yang ingin disasar sebagi target utama naga raksa-sa ini, tapi adanya keramaian dan merealisasikan pariwisata. Karena dari hidupnya sebuah elemen bidang kehidupan, bisa berdampak pada elemen lainnya. Misalnya, jika pariwisata maju, berimbas juga pada perekono-mian masyarakat dan semuanya bergulir dengan semakin baik.
Menurutnya, naga juga memi-liki filosofi yang baik. Naga per-lambambang keperkasaan dan kewibawaan. Dalam satu rang-kaian tubuhnya, naga terdiri dari kumala, kepala, badan dan ekor. Kumala diartikan sebagai visi, kepala sebagai pemimpin, badan sebagai eksekutif, sedang-kan ekor merupakan rakyat.”Semua itu merangkai filosofi yang dapat diartikan semua ha-rus terarah, mengikuti arahan pimpinannya,” ujarnya.Dengan seni budaya yang men-jadi konten utama, PBTY tidak hanya melibatkan warga Tiong-hoa, tapi berbagai suku bangsa. Karena itu, PBTY disebut mi-niatur nusantara. Di sana mul-tikultur, semua kegiatan ber-padu harmonis dengan masy-arakatnya yang dinamis.”Seni budaya sebagai alat pengikat kesatuan bangsa, ka-rena itu akan indah. Kita tidak harus menggunakan kekerasan dalam penyampaian,”ujar Hari.(dya/jko/ong)