DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
AKTIF SOSIAL: Ketua Perhimpunan Fu Qing Jogjakarta Jimmy Sutanto. Foto kanan, kegiatan pengobatan dengan tusuk jarum yang digelar Perhimpunan Fu Qing Jogjakarta.

Tak Pernah Absen dalam Berbagai Kegiatan Sosial

Setiap orang yang merantau, memiliki keinginan untuk sesekali bisa pulang kampung, menengok tanah kelahiran. Jika tidak memiliki kesempatan itu, setidaknya dapat bertemu dan guyup dengan sesama perantau dari kampung yang sama.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
DEMIKIAN halnya dengan Jimmy Sutanto, Ketua Perhimpunan Fu Qing Jogjakarta dan Wakil Ketua Perkumpulan Fu Qing Sedunia. Lahir dan besar di Jogja, tidak membuatnya lupa akan tanah leluhur. Pria kelahiran Jog-jakarta, 29 Mei 1945 ini, juga andil dalam Perhimpunan Fu Qing Jogjakarta.
Fu Qing merupakan sebuah daerah di Tiongkok. Alamnya dikelilingi pegunung-an, kehidupan ekonomi masyarakatnya terbilang rendah, sehingga banyak warga asli yang kemudian mengembara untuk men-cari penghidupan yang lebih baik. Karena kondisi itu lah, mereka menyadari harus bersatu dan memiliki ikatan dengan sesama perantau.”Itulah yang melatari organisasi Fu Qing ber-diri. Etnis Tionghoa yang orang Fu Qing di sini pun bersatu, semangat berjuang dilan-dasi persatuan,” ujarnya.
Bersama perhimpunan Fu Qing Jogjakarta, di-rinya banyak terlibat dalam aktivitas sosial, seba-gaimana misi dan visi organisasi ini terbentuk. Dengan melakukan banyak kegiatan sosial, se-perti pengobatan gratis yang rutin dilakukan men-jelang tahun baru Imlek, serta kegiatan sosial lainnya, termasuk membantu saat bencana alam terjadi di Jogjakarta. Fu Qing tidak ingin absen dalam hal itu.Sosok pria berkacamata ini tidak hanya aktif dalam satu organisasi, tapi juga berbagai ke-giatan sosial, seni dan kebudayaan
Tidak hanya melestarikan ke-budayaan Tionghoa, juga mele-burkan budaya Tionghoa dengan etnis lainnya,serta melestarikan kebudayaan nusantara di pro-vinsi kelahirannya ini.Menurut Ketua I Jogja Chi-nese Art & Culture Centre (JCACC) ini, menjadi bagian kecil sebuah keluarga besar yang kaya budaya, bukan pekerjaan yang mudah dilakukan sendiri, atau hanya bersama satu organisasi. Di ba-wah payung JCACC, perhimpu-nan Fu Qing Jogjakarta bersama 13 organisasi Tionghoa lainnya juga memikul tanggung jawab bersama menjadi bagian kelu-arga besar daerah istimewa ini.”Kami yakin, dengan adanya kegiatan budaya, akulturasi akan tercipta dan menggandeng semua pihak,” ujarnya.
Seperti kegiatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang diinisiasi JCACC. PBTY tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa, tapi 70 persen yang tampil merupakan budaya nu-santara. Ini yang membuat PBTY bisa berkembang.Di tengah perubahan yang cepat, seperti sekarang ini, Ketua I Yayasan Persaudaraan Masy-arakat Jogja ini menyadari pen-tingnya menggandeng generasi muda di setiap kegiatan dalam masyarakat. Karena masa depan bangsa ini nantinya akan dipe-gang generasi muda. Meski tidak dipungkiri, ini merupakan pe-kerjaan yang tidak mudah, se-bisa mungkin mengadakan kegiatan yang memiliki daya tarik bagi anak-anak muda.”Kami berusaha juga mengang-kat dan menggandeng anak-anak muda.
Membuat kegiatan seba-gai wadah bagi anak-anak muda, misalnya workshop komputer, latihan tari, pingpong atau ke-giatan apa pun yang positif,” ujarnya.Dia menambahkan, sejak mu-lai pulih di tahun 2003 dan bisa kembali mengadakan kegiatan agama maupun adat istiadat Tionghoa secara terbuka, namun belum sepenuhnya bebas me-nikmati demokrasi. Misalnya untuk memiliki hak tanah bangu-nan untuk rumah, menurutnya, bagi WNI keturunan etnis Ti-onghoa masih saja ada ganjalan, karena belum memiliki hak yang sama dengan warga pribumi. “Padahal, dengan dibukanya kembali gerbang kebebasan, warga Tionghoa sebagai bagian dari keluarga besar bangsa ini, juga memiliki hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai warga negara Indonesia,” tutur-nya.
Oleh karena itu, ia memiliki ha-rapan dengan presiden dan pe-merintahan yang baru, Indonesia lebih maju. Dengan memajukan demokrasi dan memajukan bang-sa, otomatis juga mengangkat warga Tionghoa. “Kami yakin, etnis Tionghoa sumbangsihnya pada Jogjakarta tidak kalah dengan etnis lain yang ada di sini,” ujar Jimmy. (*/laz/ong)