HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
GIGIH: Perajin Gembor, Agung Setyabudi, 40, warga Kuncen, Bendungan, Wates, Kulonprogo tengah menyelesaikan pekerjaaanya, kemarin (18/2).
KULONPROGO – Pekerjaaan yang di-dasari dengan kesenangan hati memang tidak mudah goyah kendati harus digempur dengan perkembangan zaman. Salah satunya seperti yang dialami Agung Setyabudi, 40, warga Kuncen, Bendungan, Wates. Hingga saat ini, ia masih konsisten menekuni usaha sebagai perajin Gembor atau alat khusus untuk menyiram tanaman. “Sejak kecil saya memang sudah ikut belajar membuat gembor dari bapak, keahlian membuat gembor ini merupakan warisan dari mbah buyut saya dulu. Ya, usaha membuat gembor ini memang warisan keluarga,” terangnya, kemarin (18/2).
Agung mengungkapkan, dia merupakan generasi ketiga pembuat gembor di daerah Kulonprogo. Sekitar tahun 1960 usaha itu dijalankan oleh kakeknya, almarhum Joyo Dikromo. Di Pedukuhan Kuncen sendiri saat ini ada belasan perajin gembor, dan semuanya dulu adalah karyawan dari Joyo Dikromo.”Termasuk keluarga saya juga hampir semuanya menekuni usaha ini. Saya delapan bersaudara dan semuanya hampir menekuni usaha ini. Saya sendiri sudah mulai membuka usaha membuat gembor sendiri sejak tahun 1990,” ungkapnya.
Agung menjelaskan, seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan gembor saat ini mulai tergusur dengan pompa air diesel. Sejak lima tahun terakhir, pesanan gembor menurun sampai 75 persen. Bahkan di Kulonprogo sendiri petani yang masih memanfaatkan gembor untuk proses penyiraman tanaman sudah sangat sedikit.”Petani di Kulonprogo kini banyak beralih ke pompa air diesel untuk proses penyiraman. Jika ada yang pesan itu juga pedagang, untuk dijual lagi ke luar daerah,” jelasnya.
Menurut Agung, pesanan kini justru banyak dari luar daerah, di antaranya dari Gunungkidul, Prambanan, Bantul dan Klaten. Di sana, gembor masih sangat dibutuhkan, khususnya saat menghadapi musim kemarau.”Ini saya baru mengerjakan pesanan 120 unit gembor dari warga Prambanan, saat musim penghujan seperti saat ini pesanan sedikit. Kalau pas kemarau bisa mencapai 500 buah per bulan,” ujarnya.Gembor buatan Agung dijual dengan harga bervariasi, tergantung bahan dan besar kecil ukurannya. Gembor dengan plat seng tipis dan ukuran tanggung dihargai Rp 27.500 per buah. Sementara dengan plat tebal dan ukuran besar harganya mencapai Rp 35 ribu per buah.”Kalau dulu harganya cuma Rp 25 ribu per buah, namun karena harga bahan bakunya naik jadi harganya dinaikkan untuk menutup biaya produksi. Bahan baku saya datangkan dari Semarang,” terangnya.
Kalah bersaing dengan pompa air, Agung kini juga tidak hanya memproduksi gembor. Dia juga melayani pembuatan perkakas lain seperti ember seng, bak air, soblok dan dandang (alat menanak nasi), oven roti juga kompor gas.”Saya juga melayani servis panci dan sebagainya, upahnya Rp 700 per centimeter untuk seng, dan Rp 1.000 per centimeter untuk bahan stenlis. Justru jasa servis ini yang tidak ada matinya, mau kemarau atau penghujan selalu ada,” terangnya.
Dibantu tujuh karyawan, Agung kini juga berani menerima order perbaikan mesin berbahan stainless dan seng. Seperti belum lama ini, ia diminta untuk membuat alat pencabut bulu ayam, pengering keripik, ring stainless untuk diesel tambak udang juga mesin pengolah singkong.”Cuma order besar seperti itu hanya sesekali ada, yang pokok membuat gembor. Saat musim penghujan dan pesanan sedikit seperti saat ini saya tetap produksi. Karena biasanya memasuki musim kemarau pesanan melonjak, dan saya sudah punya stok dan siap kirim ke pemesan,” ucapnya. (tom/ila/ong)