ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
DIINTAI LAMA: Petugas BPOM Semarang mengamankan 220 kg mi berformalin siap edar. Terlihat petugas menyita bahan pembuatan mi.
MUNGKID – Penggerebekan pabrik mi berformalin di Dusun Manggisan, Banjarnegoro, Mer-toyudan, Rabu (18/2) mengagetkan warga setempat. Sebelum digere-bek, produksi rumahan mi forma-lin itu memang sempat menye-babkan masalah di lingkungan desa tersebut. Namun, masyara-kat setempat tidak mengetahui, jika produksi mi formalin kem-bali aktif.Narsipah, salah satu warga yang rumahnya berdekatan dengan produksi mi formalin mengaku, tidak mengetahui jika sebelah rumahnya dijadikan tempat pro-duksi mi.
Tidak hanya itu, pihaknya juga tidak mengetahui, jika mi yang diproduksi mengandung bahan pengawet jenazah.”Ga tau kalau ada produksi bakmi berformalin di sini. Warga se tempat jarang bertemu pemilik rumah karena jarang di rumah. Pas per-temuan keluarga saja rumah itu difungsikan,” ungkap Narsipah kemarin (19/2).Perempuan yang rumahnya se-lang tiga rumah itu meneruskan, dulu rumah itu pernah dijadikan produksi mi pada 2014. Namun, karena limbah produksi menyebab-kan masalah, kemudian tidak be-roperasi. Warga keberatan karena asap hasil produksi mi meng-ganggu warga setempat
“Warga merasa bau karena limbah asap, terus minta di-hentikan. Warga keberatan ka-rena mengganggu lingkungan,” jelasnya.Hal serupa disampaikan Kadus Manggisan, Bajarnegoro Nur Sulistiyono. Ia mengatakan, rumah itu sempat mem produksi mi setahun lalu. Nur tidak menge-tahui, jika rumah atas nama Udi Pramono itu memproduksi mi lagi.”Setahu saya, izin usahanya belum ada. Masyarakat tidak tahu, apalagi kalau mi-nya mengandung formalin. Ma-syarakat tahunya sebagai tempat naruh pati, gandum, dan lain-lain. Bisa dikatakan diam-diam dalam produksinya,” jelasnya.
Nur mengatakan, sebelum membuat rumah di Dusun Mang-gisan, warga itu pindahan dari Magersari, Kota Magelang. Saat datang tahun 2013, awal pro-duksi mi terjadi polusi udara. Asap pekat keluar dari pe karangan rumahnya dan mengganggu warga setempat.Ketua RW 10 Suratman me-nambahkan, begitu muncul masalah dengan warga setempat, pabrik mi itu sepakat ditutup. Tepatnya, pada Juni 2014 pe milik rumah dengan kesadaran sen-diri menutup produksinya.Ke-sepakatan itu dituangkan di atas kertas dan ditandatangani pe-milik rumah dan tokoh ma-syarakat. Bahkan, juga dilam-piri materai Rp 6 ribu.”Saat digerebek, belum ada seminggu kemungkinan ber-operasi,” katanya. (ady/hes/ong)