HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
RUMIT: Mukti, 42, warga Drewulu, Pengasih, Pengasih saat menyelesaikan pesanan kerajinan kaca patri, kemarin (19/2).
KULONPROGO – Mukti, 42, warga Drewulu, Pengasih, Pengasih berhasil mengembangkan keraji-nan kaca patri. Berkat kerja keras dan ketekunannya, produk ke-rajinan kaca patri yang dibuatnya kini mampu menjadi tumpuan penghidupan.Sekilas proses pembuatannya terlihat sulit, namun untuk mem-buat kerajinan kaca patri ini perlu keahlian khusus. Tak heran jika tidak banyak orang yang bisa dengan mudah mempelajarinya.
Hasil kerajinan dengan bahan dasar kaca warna-warni inipun memiliki nilai seni cukup tinggi. Mukti mengungkapkan, usaha yang beromzet jutaan itu telah dibukanya sejak sekitar tahun 2000 silam. Keahlian yang di-milikinya diperoleh saat bekerja di salah satu pabrik di Tangerang yang memang khusus membuat kerajinan kaca untuk ekspor.”Saat itu sekitar tahun 1993 hingga 1994 saya masih kerja di pabrik, dan tahun 2000 saya memutuskan keluar dari pabrik. Kemudian membuka usaha sendiri di rumah,” ungkapnya, kemarin (19/2).
Hasil produksinya banyak dipesan warga di wilayaj Kulonprogo dan sekitarnya. Bahkan sempat mene-rima pesanan dari Flores, Nusa Tenggara Timur dengan ukuran mencapai 70 meter. “Kerajinan ini memang jarang yang menekuni,” ungkapnya.Harga kerajinan patri kaca dibanderol beragam, mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta tergantung kerumitan motif, ukuran, dan bahan. Motif biasa-nya tergantung pesanan, namun kebanyakan berupa flora, fauna, wayang, dan ornamen tertentu.”Paling sulit mengejakan motif wayang. Biasanya pesanan seukuran jendela 40×150 meter,” ujar ayah tiga anak ini.
Bahan baku kaca tidak sem-barangan, untuk mendapatkannya harus diimpor dari Brazil, Taiwan, Amerika, dan Belgia. Terlebih kerajinan kaca patri tidak bisa menggunakan kaca biasa. “Kaca khusus, sehingga bisa bercahaya dan lebih hidup,” terangnya saat menyelesaikan pesanan di workshop kerajinan kaca patri miliknya di kawasan simpang tiga Joresan, Pengasih.Menurutnya, kendala yang di-hadapi dalam menjalankan ke-rajinan ini yakni bahan baku kaca yang sulit didapat. Kaca yang paling susah didapat adalah kaca warna merah dan oranye. “Mendapat-kannya mencari ke Jakarta. Hasil usaha ini, sudah bisa membangun rumah,” ucapnya. (tom/ila/ong)