JOGJA – Nasib terpidana mati penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) IIA Wirogunan Kota Jogja, Mary Jane Fiesta Velo-so, 29, masih tak menentu. Pada hal Presi-den Joko Widodo telah menolak permoho-nan grasi terhadap “ratu heroin” yang merupakan warga negara Filipina ini.Kepala Lapas IIA Wirogunan Zaenal Ari-fin mengakui bahwa Mary Jane masih menjadi warga binaannya di lapas. “Masih ada di sini. Hingga hari ini, dia (Mary Jane) kondisinya juga baik-baik saja,” katanya kemarin.Mary Jane masih menjadi warga binaan Lapas IIA Wirogunan, karena hingga saat ini pihak lapas belum mendapatkan pem-beritahuan tentang pelaksanaan eksekusi mati dari yang berwenang
“Kami pun masih menunggu. Karena, sampai sekarang memang belum ada perintah, atau surat pemberitahuan,” tandas Zaenal di kantornya Lapas IIA Wirogunan.Ia menambahkan, karena be-lum ada pemberitahuan, Lapas IIA Wirogunan pun tak melaku-kan upaya persiapan khusus. Semisal pendampingan dari pemuka agama atau bentuk lain. “Karena tak ada pemberitahuan, ya seperti biasa saja,” ujarnya.Bahkan Mary Jane seperti su-dah melupakan statusnya yang akan dieksekusi mati. Hal itu dibuktikan dengan aktivitas ha-riannya yang juga masih se-perti biasanya.
Setiap harinya, termasuk kemarin, dia ikut be-rolah raga bersama, ikut ibadah bersama. “Tidak ada yang aneh, dia biasa-biasa saja. Masihmain voli bersama warga binaan lain-nya, dan beribadah di gereja di dalam lapas,” tandas Zaenal.
Sekadar mengingatkan, Mary Jane tertangkap di Bandara In-ternasional Adi Sutjipto pada 2010 silam. Saat itu, ia tertangkap petugas karena terbukti mem-bawa narkoba jenis heroin se-berat 2,6 kilogram.Dalam perjalanan proses hu-kum, “ratu heroin” itu menda-patkan vonis hukuman mati dari Pengadilan Negeri (PN) Sleman. Kemudian, putusan itu dikuatkan di tingkat kasasi.Demi lepas dari hukuman ter-berat itu, Mary Jane sempat mengajukan grasi.
Tapi, upaya tersebut tak membuahkan hasil, setelah Presiden Jokowi tak mengabulkan.Kini, nasib Mary Jane pun ting-gal menanti waktu. Kejaksaan Agung (Kejagung) memasukkan namanya dalam daftar untuk diesekusi mati. Hanya saja, ek-sekusi untuk Mary Jane, sampai sekarang belum diketahui kapan waktunya dan di mana tempatnya. Baik Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ, maupun Lapas IIA Wirogunan belum mendapatkan surat tem-busan eksekusi mati ini.Selain Mary Jane, di Lapas IIA Wirogunan ada tiga terpidana mati lain.
Namun dalam kasus yang berbeda, takni kasus pem-bunuhan dan pemerkosaan. Ketiga terpidana ini, masih me-nanti keputusan presiden ter-kait grasi mereka.Secara terpisah, Ketua Umum DPD Granat DIJ Feryan H Nugro-ho mengungkapkan, pihaknya akan mendukung eksekusi ma-ti tersebut. Granat akan ‘mem-back-up’ Kejati dari pihak-pihak yang menolak adanya hukuman mati bagi pengedar narkoba.”Kami jelas akan mendukung kejaksaan untuk tegas terhadap pengedar dan bandar narkoba yang sedang diproses,” ujarnya.
Ia juga menyambut positif, jika Mary Jane segera diesekusi. Ini sebagai bentuk tindakan un-tuk memberikan efek jera bagi pengedar narkoba yang jelas-jelas dampaknya merusak ge-nerasi muda Indonesia.”Saat ini grasi sudah ditolak oleh presiden, seharusnya sudah selesai dan bisa dieksekusi. Se-harusnya sudah tidak bisa lagi ditunda-tunda, karena tidak ada bukti baru,” ungkapnya.
Seperti diketahui, proses pe-mindahan terpidana mati ke Lembaga Pemasyarakatan Nusa-kambangan, Cilacap, Jawa Tengah ditunda. Para terpidana mati, berasal dari lima lokasi: Jogja, Kerobokan Bali, Madiun Jawa Timur, Tangerang, Banten, dan Palembang itu, sedianya dipin-dahkan ke Nusakambangan pada pekan ini.Kepala Pusat Penerangan Hu-kum (Kapuspenkum) Kejagung Tonny T Spontana menyampai-kan alasan penundaan itu ka-rena lokasi pelaksanaan ekse-kusi di Nusakambangan yang tak cukup untuk lebih dari lima orang.”Bahwa lokasi pelaksanaan ek-sekusi pidana mati di Nusa-kambangan agak sulit kalau dila-kukan untuk lebih dari lima terpi-dana,” jelas Tonny kepada wartawan di Kejagung, Jakarta Selatan.
Menurut Tonny, pihak Lapas Nusakambangan masih akan membangun ruangan dan sel isolasi yang lebih besar agar bisa menyesuaikan dengan jum-lah terpidana mati yang akan dieksekusi pada tahap dua ini.”Jadi ukuran ruangan, lokasi, kemudian sel isolasi akan dila-kukan penyesuaian. Dibangun kamar baru, dibentuk tembok baru, kemudian dipilih lokasi alternatif plan A dan plan B, se-hingga semuanya siap,” ujarnya.
Selain itu, menurut Tonny, penun-daan terjadi juga karena adanya permintaan dari pihak Nusa-kambangan yang meminta pe-mindahan para napi harus dila-kukan berdekatan dengan waktu pelaksanaan hukuman mati.Permintaan itu telah disam-paikan kepada jaksa eksekutor yang meninjau ke Lapas Nusa-kambangan bersama pejabat dari Kanwil Hukum dan HAM Provinsi Jawa Tengah.”Bahwa mereka menghendaki pada saat pemindahan para napi itu sudah berdekatan dengan waktu pelaksanaan eksekusi,” tukasnya.
Sedianya Kejagung akan men-geksekusi 11 terpidana mati yang sudah ditolak permohonan gra-sinya. Ke-11 terpidana mati itu, Syofial alias Iyen bin Azwar (WNI) kasus pembunuhan berencana, Mary Jane Fiesta Veloso (WN Filipina) kasus narkotika, Myu-ran Sukumaran alias Mark (WN Australia) kasus narkotika, Harun bin Ajis (WNI) kasus pembunu-han berencana, Sargawi alias Ali bin Sanusi (WNI) kasus pem-bunuhan berencana, dan Serge Areski Atlaoui (WN Prancis) ka-sus narkotika.
Kemudian Martin Anderson alias Belo (WN Ghana) kasus narkotika, Zainal Abidin (WNI) kasus narkotika, Raheem Ag-baje Salami (WN Cordova) kasus narkotika, Rodrigo Gularte (WN Brasil) kasus narkotika, Andrew Chan (WN Australia) kasus nar-kotika, dan juga Silvester (WN Nigeria) yang juga terlibat kasus narkotika.(eri/jko/ong)