JOGJA – Letak serta toponimi atau pe-namaan kampung-kampung yang ber-hubungan dengan Keraton Jogja, akan menjadi bahan riset Badan Perenca-naan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja. Nantinya, hasil riset akan menjadi bahan pertimbangan dalam penataan Kota Jogja.”Dalam penataan kawasan Keraton Jogja memiliki makna filosofis, terdapat pola-pola tertentu dalam penataanya. Hal ini yang ingin kami ketahui,” kata Kepala Sub Bidang Penelitian Peng-embangan Sarana Prasarana Tata Ruang Bappeda Kota Jogja Teguh Setiawan ke-marin (19/2).
Secara filosofis, di lingkungan Kera-ton Jogja terdapat pemukiman yang dulu menjadi tempat tinggal prajurit keraton. Kajian tentang fisik Keraton Jogja, sudah banyak. Meski demikian, Bappeda Kota masih ingin mendalamai yang lebih.Kajian yang akan dilakukan, adalah tentang kenapa Keraton Jogja menem-patkan tempat tinggal prajuritnya se-cara spesifik. Seperti bregada Wirabra-ja, Mantrijeron, Bugisan, Patangpuluhan, Nyutran dan bregada lainnya ditempat-kan di lokasi yang terpisah-pisah. “Akan coba kami lacak polanya, dari sisi fisik, historis, hingga fungsinya, kenapa lo-kasi kampung diletakkan di situ,” te-rangnya.
Pihaknya tidak hanya membatasi pada kampung yang berada di dalam beteng Keraton Jogja. Banyak pemuki-man prajurit yang lokasinya berada di luar beteng, seperti Nyutran, Bugisan, Mantrijeron atau Wirobrajan. Selain itu, Bappeda Kota Jogja juga akan me-neliti pesanggrahan Keraton Jogja di seluruh wilayah Kota Jogja. Salah sa-tunya seperti pesanggrahan di wilayah Warungboto Jogja.
Teguh menjelaskan, nantinya hasil riset akan menjadi bahan masukan untuk penataan kota kedepannya. Menurut dia, meski dalam penataan sudah banyak mengadopsi konsep saat ini, namun se-cara filosofis diharapkan juga bisa me-nyerap unsur tradisional, seperti yang dilakukan Keraton Jogja. “Harapnya ha-sil pemetaan tersebut menjadi bahan pengambilan kebijakan ketataruangan ke depan,” jelasnya.Kepala Bappeda Kota Jogja Edy Muham-mad menambahkan, tata ruang yang sudah dilakukan Keraton Jogja tersebut bisa menjadi acuan dalam tata ruang Kota Jogja masa depan. Salah satunya dengan menggali kearifan lokal yang ada. Dirinya mencontohkan seperti toponimi wilayah, yang disesuaikan dengan pen-ghuninya. “Seperti Patehan itu untuk abdi dalem pembuat teh atau Bugisan bagi prajurit Bugis. Itu kan istimewa,” terangnya. (pra/jko/ong)