MAGELANG – Pedagang Pasar Rejowinangun yang telah me lunasi pembayaran pembuatan sekat antarlos dengan pintu rolling door diminta segera mengkonfir-masi ke subkontraktor. Hal tersebut dianggap sebagai langkah antisi-patif, kemungkinan adanya pem-bongkaran.Apalagi, hingga kini Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang (P3RM) dan kontraktor utama, yakni CV Trikarya Indah masih ada tanggungan pem bayaran hingga Rp 800 juta lebih. “Lebih baik kalau mulai sekarang ada komunikasi yang cukup intens antara pedagang yang telah me-lakukan pembayaran, baik cash maupun kredit, dengan pihak sub-kontraktor. Ini merupakan langkah antisipatif agar tidak lagi ada upaya pembongkaran,” kata Ketua LSM Maskot Suharto kemarin (22/2).
Pria yang tinggal di Kampung Karanggading Rejowinangun Selatan ini berharap, pedagang tidak segan-segan lapor ke aparat hukum. Bila ada temuan soal pembayaran yang belum diselesaikan oleh P3Rm atau Trikarya ke subkontraktor. Karena, itu sudah masuk pidana. “Sudah masuk pidana penggelapan dan atau penipuan serta lainnya Jika ada pembayaran pedagang yang belum sampai ke pihak subkontraktor yang telah me-nyelesaikan pembangunan sekat antarlos,” tegasnya.
LSM Maskot berjanji mem-berikan pendampingan ke pe-dagang, jika dibutuhkan. “Kami siap menerima aduan dan me-lakukan pendampingan jika pedagang berminat. Kami juga siapkan advokat untuk pen-dampingan ini,” janjinya.Suharto menyayangkan belum terbayarnya pekerjaan rolling door ke subkontraktor terjadi di Pasar Rejowinangun. “Kami menyayangkan adanya kejadian ini. Kok bisa terjadi di wilayah yang bernama Pasar Rejo-winangun yang notabene berada di bawah Dinas Pengelolaan Pasar dan Pemkot Magelang. Pemkot harus ikut bertanggung jawab dalam penyelesaian masalah ini,” kritiknya.
Seperti diketahui, tidak kunjung dibayar bahan dan biaya pe-masangannya, dua subkontrak-tor yaitu Fajar Adi Nugroho SH dan Supardji mencoba mem-bongkar rolling door yang ter-pasang di los lantai 2 Pasar Re-jowinangun, beberapa waktu lalu (11/2). Aksi tersebut dihalang-halangi beberapa pedagang yang merasa telah melakukan pembayaran. Baik melalui kredit di bank maupun P3RM yang di-ketuai Heri Setiawan.
Saat dipertemukan antara pe-dagang, subkontraktor di Kantor UPTD Pasar Rejowinangun, Heri Setiawan mengaku sudah menyelesaikan urusan pem-bayaran dengan pihak kontrak-tor utama. Sementara versi CV Trikarya Indah, pihaknya belum dibayar paguyuban pedagang hingga Rp 1,1 miliar. Belum ter-bayarnya pemasangan rolling door dan sekat antarlos di Pasar Rejowinangun tersebut, dika-renakan administrasi amburadul.Kapolres Magelang Kota AKBP Zain Dwi Nugroho berharap, baik pedagang dan pihak lainnya tetap tenang.
Namun, pihaknya tidak segan memberi tindakan tegas, sepanjang ada indikasi tindakan kriminal dari pihak manapun.”Kami minta tetap tenang. Jangan mudah terprovokasi. Kami akan bertindak profesional sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Manfaatkan koor dinasi,” pintanya.Kapolres mengapresiasi, lang-kah pedagang yang mampu menjaga kondusivitas hingga kini. “Saya harap pedagang tidak terlalu terpengaruh dengan ajakan pihak tertentu memperlebar insiden itu. Apalagi yang saya tahu soal insiden itu (perusakan) sudah diselesaikan,” tandas Zain didampingi Kasubag Humas AKP Esti Wardiani. (dem/hes/ong)