ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
AKSI NYATA: Kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah diawali kerja bakti. Ini dilakukan SKPD, masyarakat ,TNI, siswa, dan kelompok peduli lingkungan di sekitar Balai Desa Gunungpring.
MUNGKID – Persoalan mengenai sampah tidak semakin selesai. Justru, masalah yang muncul semakin kompleks. Dari sini, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Magelang ingin mengajak masyarakat pe-duli sampah.Ini terungkap dalam Sarasehan Hari Peduli Sampah 2015 yang digelar di Joglo Jeep Gunung Pring, Muntilan, Sabtu (21/2). BLH Kabupaten Magelang mencatat, rata-rata jumlah sampah yang dihasilkan per orang 0,3 kilogram (kg) per hari. Apabila, jumlah penduduk Kabupaten Magelang sebesar 1,2 juta jiwa. Karenanya, sampah yang dihasilkan sebesar 360 ribu kg per hari. Ini merupakan jumlah yang besar dan sering tidak dibayangkan
“Karena itu, dengan melihat permasalahan sampah ini, mu-lai hari ini kami harus segera merubah paradigma atau cara pandang terhadap sampah. Yang semula tidak berguna, kami ubah menjadi sesuatu yang ber manfaat untuk kehidupan,” kata Plt Sekda Agung Trijaya. Menurut Agung, untuk me-ngurangi timbunan sampah agar tidak semakin banyak, diperlu-kan strategi tepat. Hal ini penting, karena dalam penanganan sam-pah, tidak hanya semata fokus pada volume sampah.
Namun, juga mempertimbangkan dam-pak sosial maupun lingkungan di sekitar lokasi penimbunan.Di samping itu, upaya pena-nganan dan pengelolaan sampah memerlukan kerja sama yang sinergis. Yaitu, antara pemerintah, masyarakat, akademisi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan pihak swasta pengusaha.Langkah sinergis ini bisa di awali dari merubah perilaku warga masyarakat terhadap sampah dengan memilah sampah organik dan anorganik. Serta, melalui berbagai macam kegiatan se-perti penyuluhan, sosialisasi, ataupun pelatihan yang di lakukan institusi pendidikan, akademisi, maupun LSM.”Yang tidak kalah penting juga, adalah menggalakkan penge-lolaan sampah di tingkat rumah tangga melalui bank sampah. Karena, dari rumah tangga ini-lah, awal munculnya per-masalahan sampah,” tegasnya.
Ia menilai, di tengah-tengah masyarakat rasa kepedulian ter-hadap sampah mulai luntur. Sering di temukan di sudut-sudut kota dan desa, banyak sampah yang berserakan dan menumpuk tanpa ada yang memperdulikannya. Sehingga kesan kumuh dan kotor men-jadi hal yang biasa dihadapi sehari-hari.”Kami bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari tragedi long-sornya sampah di Desa Leu-wigajah, Cimahi, Provinsi Jawa Barat pada 21 Februari 2005. Musibah yang menewaskan 143 orang dan menimbun 137 rumah itu akibat longsoran sampah setinggi 30 metermenimpa rumah warga,” ucapnya.
Menurutnya, sampah yang tidak dikelola dengan baik, suatu saat menimbulkan ma-salah. Bahkan musibah bagi manusia. Dalam rangka men-dukung upaya tersebut, sejak dini semua elemen harus benar-benar melakukan pengelolaan sampah dengan baik dan benar. Karena salah satu kriteria ter-penting dalam penilaian Adi-pura 2017 adalah mengenai pengelolaan sampah.”Perlu juga saya tekankan, per-masalahan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pe-merintah semata. Namun peran serta dan dukungan seluruh komponen masyarakat juga di-perlukan, dalam rangka meraih Piala Adipura serta demi ter-ciptanya lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman,” katanya.
Ketua Penyelenggara Bidang Pengendalian Pencemaran Ling-kungan (PPL) Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mage-lang Sri Murni Ediyati me-ngatakan, kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah diawali ke-giatan kerja bakti.Ini dilakukan SKPD, masyarakat, TNI, siswa, kelompok peduli lingkungan, dan lainnya di sekitar Balai Desa Gunungpring. Acara dilanjutkan pengolahan sampah, pameran produk dari hasil olahan sampah. (ady/hes/ong)