JOGJA – Sempat diterpa ke naikan berbagai harga bahan baku akibat kenaikan harga BMM pada November 2014, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UM-KM) masih bertahan. Bahkan, mereka cepat bangkit. Buktinya, pertumbuhan produksi industri mikro dan kecil (IKM) meningkat. Berdasarkan data yang dimiliki Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ, pertumbuhan produksi triwulan IV dibandingkan triwulan III tahun lalu mengalami pertumbuhan -1,80 persen dari sebelum ya -7,93 persen.”Membaiknya produksi triwulan IV disebabkan pertumbuhan yang cukup tinggi beberapa jenis industri IMK,” tegas Kepala BPS DIJ Bambang Kristianto Sabtu (21/2).
Ia memaparkan, sektor industri yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi adalah industri kertas dan barang dari kertas. Keduanya mengalami pertumbuhan sebesar 15,75 persen. Disusul, pertumbuhan industri tekstil sebesar 10,14 persen, serta industri mesin dan perlengkapan yang tidak termasuk dalam lain-nya (ytdl) sebesar 9,22 persen.Sedangkan industri yang mengalami pertumbuhan ne gatif adalah industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional dengan laju -18,65 persen.Sementara, industri percetakan dan reproduksi media rekaman mengalami pertumbuhan -11,65 persen disusul industri barang dari bahan kimia sebesar -11,60 persen.
Bambang menjelaskan, di-bandingkan pertumbuhan produksi manufaktur mikro dan kecil In-donesia yang naik sebesar 2,39 persen, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil di DIJ pada triwulan IV tahun lalu lebih rendah 4,19 poin.”Industri manufaktur besar dan sedang DIJ triwulan IV 2014 terhadap triwulan III tahun yang sama mengalami kenaikan 2,72 persen,” tegasnya.Ia menjelaskan, industri IMK merupakan kekuatan strategis dalam mempercepat pem-bangunan daerah. Karenanya, usaha IMK harus dilakukan agar kendala yang dihadapi berupa pemodalan, pemasaran, serta pengelolaan cepat teratasi.
Di tempat terpisah, terkait per-modalan, Ketua OJK Dany Surya Sinaga mengatakan, pihaknya terus mendorong lembaga perbankan maupun lembaga keungan lainnya membantu per-modalan IKM di DIJ. Ia beralasan, saat ini pertumbuhan produksi UKM di DIJ tengah meningkat.”Menandakan ada gairah dalam UKM di Jogjakarta. Dari sektor kredit usaha pun ada peningkatan 16,32 persen atau menjadi 29,74 miliar,” terangnya.Dany menyebut, OJK wilayah Jogjakarta mendorong pe-ngembangan sektor keuangan, agar pembiayaan tidak lagi di-dominasi perbankan. OJK ber harap pembiyaan bisa datang dari sek-tor lain. Seperti pasar modal.”Pembiayaan dari pasar modal masih kecil, karena karakter usa-ha di Jogjakarta berada UKM. Tapi bukan tidak mungkin UKM yang berpotensi tumbuh me-manfaatkan dana tersebut,” tegasnya. (bhn/hes/ong)