DWI AGUS/RADAR JOGJA
BRUBUH ALENGKA: Penampilan wayang reog Bimo Murti dari Dusun Pedak, Trimurti, Srandakan, Bantul dalam Gelar Seni Sepanjang Tahun di TBY, kemarin (22/2).
JOGJA – Gelar Seni Sepanjang Tahun kem-bali digelar di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Memasuki tahun 2015, program ini terus mengalami pengembangan
Selain menampilkan kesenian tradisi dan kerakyatan, juga turut menggandeng sejumlah sanggar seni di Jogjakarta.Salah satu penampil yang men-curi perhatian adalah wayang reog Bimo Murti dari Dusun Pedak, Trimurti, Srandakan, Bantul. Kelompok asuhan Suy-oto ini menampilkan lakon ber-judul Brubuh Alengka. Kese-nian asli dari Kabupaten Bantul ini ditampilkan dalam durasi 20 menit.
Mengisahkan perjuangan Prabu Rama Wijaya menaklukan Prabu Rahwana. Kesenian ini mengangkat cerita Ramayana sebagai tonggak cerita mereka. Kisah wayang orang ini digubah menjadi bentuk wayang reog.Meski memiliki kemiripan, ada beberapa poin perbedaan. Teru-tama untuk gending pengiring yang jauh lebih rampak. Selain itu, kemasan wayang reog mer-upakan garapan, sehingga ter-lihat lebih segar.”Untuk kemasan digubah men-jadi bentuk tarian. Selain itu dari segi kostum juga sudah men-galami pembaharuan,” ujarnya.
Anggota dalam kelompok ini didominasi generasi muda. Ini terlihat dari penampil yang ma-sih duduk di bangku TK hingga SMA. Diakui Suyoto, minat anak muda di Bantul terhadap kese-nian tradisi masih tinggi.Kelompok wayang reog ber-kembang dengan baik di Sran-dakan, Pandak dan Sanden. Mitos ketinggalan zaman dalam melakoni kesenian tradisi pun mampu ditepis. Ini karena setiap kelompok mampu menanamkan pola pikir yang berbeda.”Tentunya harus mau terbuka akan dinamika. Untuk musik kita tambahkan drum, bonang dan alat musik lain. Aslinya ha-nya bende dan bedug, begitu juga dengan konsep cerita dan gerakan. Menanamkan rasa suka dan cinta dulu terhadap kesenian,” ujarnya.
Ketua penyelenggara Wasdi-yanta menyebutkan, tahun ini gelar seni semakin matang, di mana mampu mengapresiasi potensi seni di setiap kabupaten kota di DIJ. Tentunya dengan menggandeng pemerintah se-tempat untuk mendata potensi kelompok seni yang ada.”Untuk materi penampil kita serahkan ke kabupaten kota. Tujuannya agar potensi benar-benar terdata dan bisa terapre-siasi secara merata. Selain itu ada penampilan sanggar seni yang ada di Jogjakarta,” katanya.
Sama seperti tahun sebelum-nya, pementasan ini mengguna-kan halaman TBY. Bedanya tahun ini gelar seni menampilkan po-tensi seni wayang kulit dan ket-hoprak. Tentunya ini menjadi warna baru, karena kedua ke-senian ini akan rutin tampil setiap bulannya.Menurut Wasdiyanta, dua ke-senian ini mulai tumbuh subur di Jogjakarta. Geliat ini tentunya perlu suatu wadah untuk me-naungi, sehingga kelompok-kelompok kesenian memiliki semangat untuk terus melesta-rikan kesenian ini.”Semangat masyarakat untuk melestarikan sangatlah tinggi. Sehingga wajib kita dukung dengan mengapresiasi karya. Tidak hanya tampil di kalangan sendiri, namun dapat menunjuk-kan ke khalayak yang lebih luas,” ungkapnya. (dwi/laz/ong)