Seimbangkan Basket dan Pelajaran

 
GAME putra Fantastic Four Honda DBL D.I. Jogjakarta Series 2015 hampir menje-lang menit akhir. Kejar-kejaran poin terus berlangsung. Perjumpaan tim SMA Budi Mulia Dua kontra SMA Kolese De Britto pun semakin seru. Namun sosok sang kap-ten tim De Britto nya tetap tenang saat membagi bola dan mengatur pola. Akhir-nya tim Kolese De Britto memenangkan fantastic four dan melaju ke Final Party.
Saat Final Party, sang kapten masih tetap bisa bermain dengan penuh senyum. Kem-bali tim SMA Kolese De Britto unggung dan mengakhiri semuanya dengan memboyong pulang gelar Champion 2015. Sosok penuh senyum itu adalah Graziano Chrisma Benaya. Cowok kelahiran Jogja-karta 27 April 1998 itu memang terlahir dari keluarga pecinta basket. “Bapak sama Ibu dulu memang pemain basket sampai mereka SMA. Jadi memang dalam kelu-arga udah suka basket,” ungkapnya
.Sementara Chrisma mulai menekuni olahraga ini sejak duduk di bangku kelas VII Sekolah Menengah Pertama. Saat itu dia adalah murid kelas internasional SMP Pangudi Luhur. Letak kelasnya kebetulan terpisah dari kelas reguler. Dan tepat di depan kelasnya ada lapangan basket. “Karena sering lihat dari kelas temen-temen main basket. Jadi pengen, dan akhir-nya mulai ikut seleksi dan terpilih,” cerita pemain dengan nomor jersey 14 itu.
Bergabung dalam First Team DBL Jogja 2015 bagi siswa SMA Kolese De Britto kelas XI MIA 5 adalah hal di luar gambaran pi-kirannya. “Banyak yang lebih mampu, baik dari berbagai sisi menurutku. Tapi bersyu-kur juga bisa masuk First Team. Buat DBL Camp nanti aku bakal meningkatkan lati-han untuk menambah stamina dan menga-sah skill,” terang Chrisma bersemangat.
Menurutnya, basket adalah olahraga yang mengandalkan kepercayaan pada rekan satu tim. Maka dari awal dia bersama tim De Britto mempersiapkan itu. Dengan se-ringnya melakukan segala aktivitas bereng dan saling curhat satu sama lain. Sehingga kekeluargaan terbentuk satu sama lain. “Kalo udah kaya saudara, jadi nyaman main bareng dalam tim. Kami semua udah saling tahu karakteristik masing-masing. Jadi kalo di lapangan passing tanpa ngeli-hat pun pasti sampai ke temen lain karena chemistry kami masing-masing udah kuat banget,” jelasnya.
Namun Chrisma juga menekankan, antara basket dan pelajaran harus seimbang. Itulah semangat di De Britto yang harus ditanamkan dalam hati para pemain. “Jadi enggak Cuma mentingin latihan basket. Tapi juga setiap nilai pelajaran. Kalo di sini jika kita dapet nilai jelek, pasti enggak bakal bo-leh masuk dan ikut mem-bela De Britto di event basket. Jadi harus tanggung jawab, harus seimbang,” tegas Chris-ma. (ata/man/ong)