GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
MANGA-YUBAGYO:Pemanah membidik sasaran saat mengikuti Lomba Panahan Tradisional Gaya Mataraman (Jemparingan), di Lapangan Kemandungan, Alun-Alun Selatan, Jogja, kemarin (24/2).

Yang Dijalani Harus Fokus dan Tulus

 
JOGJA – Memperingati Tinga-lan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, Keraton Jogjakarta mengadakan jemparingan atau lomba memanah. Bertempat di lapangan Kemandungan Alun-Alun Selatan, acara ini diadakan bertepatan dengan weton ke-lahiran HB X, Selasa Wage ke-marin (24/2).Menurut Pengageng Banjar Wilapa KPH Winoto Kusumo, jemparingan selalu diikuti tiap-tiap kabupaten/kota di DIJ. Tak jarang pula peserta datang dari luar wilayah Jogjakarta.
Bahkan dalam kesempatan ini, ikut pu-la peserta dari Kalimantan.”Jemparingan dalam rangka Tingalan Dalem HB X sudah se-ring diadakan setiap weton Sela-sa Wage. Diadakan sebagai wu-jud syukuran hari lahir beliau,” ujar KPH Winoto Kusomo.Untuk mengikuti jemparingan ini setiap peserta wajib mengiku-ti berbagai persyaratan. Teruta-ma untuk melestarikan jempari-ngan gaya Jogjakarta
Seperti menggunakan busana Jawa peranakan. Memanah dengan alat panah dan busur tradisional dan duduk bersila.Setiap peserta, lanjutnya, mendapatkan empat busur panah. Peserta pun wajib menyelesaikan 20 rambahan. Sehingga total setiap pemanah akan melesatkan sebanyak 80 anak panah untuk 20 rambahan ini.
Jemparingan memiliki makna filosofi yang dalam. Makna ini terkandung dalam kalimat filo-sofi Pamentanging Gandiwa Pamantenging Kalbu, di mana berarti membentangkan panah dengan memfokuskan pada hati nurani.”Jadi kalau gaya Jogjakarta fo-kus tidak menempatkan di mata, tapi hati. Tangan sejajar dengan dada buka mata, bentang busur panah pun horisontal bukan vertikal. Maknanya apa pun yang dijalani harus tulus dan fokus,” ungkapnya.
Sementara itu pengageng Krida Mardawa KRT Waseso Winoto menjelaskan, jemparingan ini diamblil tiga pemenang. Untuk sasaran digunakan boneka orang-orangan dengan poin berbeda untuk kepala, badan dan leher.Peserta dengan poin terba-nyak akan mendapatkan hadiah trofi dan uang pembinaan. Jua-ra 1 mendapatkan trofi dan uang pembinaan Rp. 100 ribu. Juara 2 mendapatkan trofi dan uang pembinaan Rp. 75 ribu dan juara 3 mendapatkan trofi dan uang pembinaan Rp. 50 ribu.Jika dilihat dari nominal, memang tidaklah seberapa.
Menurut KRT Waseso Winoto, jempa-ringan ini tidak menitikberatkan pada hadiah. Namun sejauh mana nilai filosofi jemparingan mampu diserap oleh setiap pe-serta yang hadir.”Jemparingan ini adalah wujud kekayaan tradisi Jogjakarta. Se-lain merayakan tingalan dalem, juga wujud kecintaan atas ke-kayaan budaya Jogjakarta. Selain itu juga menjaga keguyuban, tidak hanya warga Jogjakarta, namun juga seluruh peserta dari luar Jogjakarta,” tandas Waseso. (dwi/laz/ong)