DWI AGUS/RADAR JOGJA
CEGAH KEKERASAN SEKSUAL: Kiri ke kanan, aktivis PKBI Jogja Maesur Zaky, dosen Fakultas Hukum UAJY Yosephine Sari Murti W, dan Ketua Kalyanamitra Listyowati.

Durasi 10 Menit, Pesan Lebih Mudah Diterima

Kekerasan seksual saat ini masih terus terjadi. Upaya pencegahan pun terus dilakukan dengan berbagai cara dan media. Salah satunya melalui film animasi berjudul Kisah Mela dan Miko yang diproduksi Kalyanamitra.
DWI AGUS, Jogja
SETELAH sukses diputar di Jakarta pada pertengahan Februari, film ini di-boyong Kalyanamitra ke Jogjakarta. Ber-tempat di Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kemarin (24/2), film animasi ini perdana diputar di Jog-jakarta.
Menurut Ketua Kalyanamitra Listyowati, tingkat kekerasan seksual terus meningkat. Cara yang dilakukan pun semakin halus, bahkan tersamarkan. Sehingga perlu adanya edukasi melalui film untuk pengenalan jenis-jenis dan cara penanggulangannya.”Saat ini tidak hanya terjadi pada orang yang tidak dikenal. Orang terdekat seperti pacar justru terkadang bisa menjadi pelaku. Bahkan tanpa sadar khususnya kaum wa-nita kerap menjadi korban,” katanya.
Pemilihan media film animasi pun memi-liki alasan yang kuat. Jika diwujudkan dalam film dokumenter maka perlu adanya nara-sumber. Kekhawatiran yang terjadi adalah lingkungan atau bahkan narasumber ter-sebut belum bersedia.Media film animasi ini, lanjut Listyowati, dirasa lebih pas.
Durasi film pun terbilang singkat karena hanya 8 hingga 10 menit. Tujuannya agar kampanye lebih fokus un-tuk disampaikan dan pesan dapat lebih diterima.”Kenapa film animasi karena tema ini sangatlah sensitif. Tokoh yang diangkat tidak melambangkan siapa pun, namun seusai dengan fakta lingkungan,” katanya.
Film animasi ini mengisahkan tentang muda-mudi yang baru saja menjalin hu-bungan. Awal perkenalan melalui media sosial Facebook. Dalam satu kisah digam-barkan Mela diminta membuktikan cintanya dengan cara yang tidak nalar
Kondisi inilah yang sangat ren-tan karena terselubung dalam wujud kasih sayang. Sehingga dalam film ini pula disisipkan kata-kata berupa kampanye. Seperti berani berkata tidak, hingga mengenali bentuk-ben-tuk kekerasan seksual.”Dalam relasi pacaran, pihak perempuan cenderung jadi korban, dipaksa melakukan tindakan menjurus hingga ke hubungan seksual oleh pacarnya dengan alasan cinta. Padahal sebenarnya, dipegang-pegang saja kalau pihak perempuan tak menghendaki, sudah terjadi pelecehan seksual,” papar Listiyowati.
Dosen Fakultas Hukum UAJY Yosephine Sari Murti W menilai, media film ini sangatlah pas. Bagaimana mengedukasi dengan cara yang lebih mudah diterima. Penjelasan dalam film pun dia-kui olehnya lebih mudah dite-rima oleh masyarakat.Mulai dari bentuk-bentuk ke-kerasan hingga tips penanggu-langgannya.
Melalui media film, segmen pun dapat lebih luas dan tidak terfokus pada satu generasi. Sehingga kampanye dapat menyentuh anak-anak hingga orangtua.”Kenyataan memang feno-mena kekerasan seksual sudah marak. Perlu peran aktif semua elemen untuk bertindak aktif. Jangan menunggu hingga men-jadi kasus besar. Harus berani bertindak ketika masih dalam bibit yang kecil,” ungkapnya.
Film ini merupakan trilogi film animasi kisah kekerasan sek-sual. Penggarapan film masih berlanjut pada tema kekerasan seksual di dalam transportasi publik. Ada juga kekerasan sek-sual di tempat kerja.
“Kami berharap akan dibuat film selanjutnya yang mengang-kat dua tema lainnya. Semen-tara film pertama diharapkan bisa memberikan pesan kepada anak remaja agar terhindar dari kekerasan seksual yang mungkin akan dialaminya. Juga bagi keluarga agar lebih me-nyadari seperti apa kehidupan remaja saat ini,” tandas Listiyo-wati. (*/laz/ong)