HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
KHAS KULONPROGO: Koleksi batu akik asli Kulonprogo seperti kalsedon dan pancawarna saat dipajang dalam sebuah ajang pameran batu akik di Kota Wates, Minggu (22/2).

Mulai Jenis Kalsedon, Pancawarna, Jasper hingga Yahman

Booming batu akik memang telah terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Pecintanya juga semakin tidak terbatas, tidak hanya kaum adam tetapi juga kaum hawa dari berbagai usia. Setiap daerah juga seolah berlomba untuk mengangkat koleksi batu akik dari wilayahnya. Tidak terkecuali di Kulonprogo, para perajin dan kolektor batu akik mencoba mengangkat potensi akik Kulonprogo dalam sebuah ajang pameran, sepertiapa suasananya?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
PAGI itu suasana Rumah Makan Kampung Rasa di Jalan Sugiman, Watulunyu, Wates terlihat sangat berbeda. Seluruh ruangan penuh sesak dengan pengunjung. Mereka tampak antusias menge-rumuni beberapa meja yang sudah didesain sedemikian rupa. Tidak ada sajian makanan atau minuman yang disantap, karena semua meja berisi batu akik yang diangkat dari sejumlah daerah di Kulonprogo. Lebih detail lagi, para perajin dan kolektor tidak lagi hanya mengangkat nama Kulonprogo, tetapi mencoba lebih mengenal-kan titik penemuan batu itu di Kulonprogo.
Sehingga muncul beberapa istilah, batu jasper dan yahman dari Kokap, Samigaluh, Nanggulan, Kalibawang, Girimulyo dan beberapa daerah perbukitan serta bantaran sungai.”Batu ini jenisnya jasper dan yahman, khas dari pedukuhan Teganing, Hargotirto, Kokap. Dalam pameran kali ini saya hanya mengangkat batu dari Teganing, karena kami ingin mengenalkan Teganing dengan koleksi batunya,” terang Ivan Aldino, 20, warga Teganging 3, Hargotirto, Kokap saat menjaga stan Teganing dalam Pameran Batu Akik Kampung Rasa, Minggu (22/2) lalu.
Ivan mengungkapkan, batu jasper dari Teganing memiliki ciri khas yang unik. Selain itu juga memiliki ornamen yang sangat kaya. Dalam kesempatan itu, batu yang dipajang ada yang sudah digosok dan ada yang masih berbentuk bahan. Harga buka mulai Rp 50 ribu hingga Rp 5 juta. “Untuk bahan paling murah saya jual Rp 50 ribu, sementara yang sudah digosok ada satu koleksi bermotif wayang sudah ditawar Rp 5 juta namun belum kami lepas,” ungkapnya.Rekan Ivan, Wagiran menam-bahkan, semua koleksi batu yang diangkat dari daerah Teganing ditemukan di urat sungai dan perbukitan. “Kami tidak melakukan penggalian, batu yang kami temukan ya sudah seperti ini, kami melakukan pencarian tidak dengan menggali, karena tidak mau me-rusak alam,” terangnya.
Pantauan Radar Jogja, pameran batu akik yang digelar pertama kali di Kulonprogo ini mendapat sambutan yang meriah dari warga. Pengunjung datang silih berganti, ada yang hanya sekadar melihat, tetapi banyak pula yang terlibat dalam transaksi jual beli. Mereka yang datang bahkan tidak hanya dari Kulonprogo dan DIJ saja, melainkan juga dari luar kota.
Tak kalah ramai di stan batu jenis pancawarna juga menarik perhatian warga. Menurut Agus Priyanto, 32, penjaga salah satu stan pameran asal Wates ini mengatakan bebatuan dari dataran tinggi bagian utara Kulonprogo paling mendominasi pameran. Disusul bebatuan dari muara sungai Serang dan Progo. Tidak hanya jasper dan yahman, tetapi juga ada jenis pancawarna.”Pancawarna dari Kulonprogo khasnya pasti ada badar besinya, struktur batuannya sangat keras. Selain itu, batu juga memiliki kulit kapur yang menandakan batu sangat tua, beberapa berwarna ungu lavender,” ucapnya.
Agus menuturkan, menjadi pemburu batu akik sangat mengasyikan, menyusuri sungai dengan beberapa teman me-nawarkan sensasi tersendiri. Berburu batu akik, ia maknai sebagai sebuah kegiatan refreshing yang menghasilkan. Menurutnya, di Kulonprogo juga banyak ditemukan fosil kayu dan tulang. “Kadang kalau pas menemukan jenis batu tertentu ada semacam kepuasan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Hanya bisa mengaguminya, termasuk dalam proses pe-molesan, ketika menemukan motif seperti menemukan rezeki nomplok. Saya dapat motif Nyi Roro Kidul, saya buka Rp 15 juta sudah ditawar Rp 5 juta tapi belum saya lepas,” tuturnya.
Seperti diketahui, batu-batu akik asal Kulonprogo telah di-pamerankan selama dua hari, Sabtu (22/2) dan Minggu (22/2) di Rumah Makan Kampung Rasa. Pameran digelar oleh komunitas pecinta batu Kulonprogo. Ketua Panitia Agung Prasakti mengklaim, ada puluhan peserta yang ikut dalam pameran batu akik kali ini. Mereka adalah perajin, penggemar akik, dan kolektor. Menurutnya, kualitas batu Kulonprogo juga tidak kalah jika dibanding dengan batu daerah lainnya. Batu-batu akik Kulonprogo jenis kalsedon dari wilayah Kokap, Girimulyo, Samigaluh, dan Kali-bawang juga bermunculan.”Tidak kalah jika dibandingkan dengan kualitas batu serupa dari daerah Probolinggo, Pacitan, dan Garut,” terangnya. (tom/ila/ong)