Motivasi Anak, Pendampingan Sekolah dan Dukungan Orang Tua

OlehSUKSES RISDIYANTO *)
MASIH adanya berita tentang perilaku negatif yang dilakukan pelajar di beberapa sekolah menghiasi surat kabar, mem-buat penulis merasa miris dan prihatin. Nampaknya upaya mendewasakan siswa masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai bagi sebagian se-kolah di Indonesia. Penulis membayangkan, seandainya setiap sekolah menggarap setiap programnya dengan memper-hatikan aspek pembentukan karakter secara menyeluruh, maka penulis yakin, dengan sendirinya siswa akan menjadi pribadi yang mawas diri.Salah satu bentuk kegiatan yang strategis untuk mengasah spor-tivitas dan disiplin positif yang bisa menjawab kebutuhan seko-lah adalah kegiatan ekstra kuri-kuler.
Banyak hal positif yang bisa diambil dari mengikuti ke-giatan ekstrakurikuler ini, yang mana bagian terbesarnya adalah pembentukan karakter dan ujung-nya adalah pendewasaan siswa. Merujuk pada teori Multiple Intelligence Dr Howard Gardner, Setiap anak mempunyai kecer-dasan yang berbeda-beda dan setiap siswa pasti punya hasrat (passion) terhadap salah satu bidang kegiatan. Dalam konteks ini, kegiatan ekstra kurikuler menjadi wadah yang tepat bagi siswa, dan tentunya menjadi tugas guru untuk memaksimal-kan potensi siswa di bidangnya. Ketika siswa memutuskan me-milih bergabung dengan salah satu ekstrakurikuler, contohnya basket, mereka harus diajarkan arti berkomitmen terhadap pi-lihannya. di sinilah peran pen-ting guru untuk menjaga moti-vasi anak untuk giat berlatih, konsisten pada jadwal dan per-caya kepada proses.
Pilar keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler basket di sekolah ada 3, yaitu motivasi anak, pen-dampingan sekolah dan dukungan orang tua. Ketiga hal tersebut harus bersinergi membentuk pondasi kokoh demi menghasil-kan pencapaian yang maksimal. Developmental Basketball Lea-gue (DBL) sebagai salah satu event positif di bidang basket dengan mengusung konsep student-athle-te, sudah seharusnya dijadikan mitra yang strrategis bagi sekolah untuk mengimplementasikan ketiga pilar di atas. Betapa dalam konsep tersebut, keseimbangan hak dan kewajiban tertuang dalam kontrak antara ketiga pihak, yaitu siswa-sekolah dan orang tua .
Sekolah sebagai fasilitator mempunyai kewajiban meny-ediakan ruang bagi peng-embangan kemampuan fisik dan mental anak. Kemampuan fisik yaitu berupa sarana latihan yang memadai, mempekerjakan pe-latih yang kompeten, dan program latihan yang terukur. Sedangkan pengembangan mental yaitu dengan program motivational training berupa outbound, mem-perbanyak frekuensi sparring dan mengikuti berbagai turna-men untuk meningkatkan ke-percayaan diri siswa.
Dukungan dari orang tua sangat dibutuhkan dalam men-jaga komitmen anak terhadap pilihannya, sebagaimana tertu-ang dalam kontrak student-athlete. Orang tua menjadi part-ner yang ideal bagi sekolah dalam memonitor prilaku dan kebiasaan siswa di rumah, con-tohnya asupan gizi yang harus seimbang, pola makan serta istirahat yang ideal, dan yang utama adalah manajemen wak-tu yang proporsional sebagai seorang pelajar dan atlit.
Salah satu ciri keberhasilan sebuah kegiatan ekstrakurikuler adalah keterlibatan aktif masing-masing siswa dalam suatu cara belajar yang sesuai dengan ka-rakter mereka, sehingga timbul rasa memiliki (sense of belonging) dan keterikatan secara positif antara siswa dan kegiatannya. Di sinilah diperlukan kecerdasan seorang pendamping ekstraku-rikuler untuk bisa melakukan pendekatan -pendekatan per-sonal nan unik, sehingga setiap anak bisa berkembang maksimal sesuai potensi dan posisi yang dibutuhkan dalam tim.
Adalah sebuah perasaan yang luar biasa bagi seorang guru, ketika menyaksikan anak didiknya mencapai prestasi tertinggi di bidang yang disukainya, dan menjadi bagian dari proses tum-buhnya insan yang tidak bisa menjadi mampu. Adakah pen-ghargaan lain yang bisa meng-gantikan rasa tersebut?
*Naskah pemenang ketiga lomba penulisan essay versi Guru Favorit Honda DBL D.I. Jogjakarta Series 2015. Penulis adalah Guru Pendamping Basket SMA Budi Mulia Dua