GUNUNGKIDUL – Kasus HIV/AIDS di Gunungkidul masuk kategori tinggi. Pasalnya, dalam dua bulan terakhir terdapat sembilan warga positif terjangkit HIV/AIDS. Sembilan penderita baru tersebut teridentifikasi saat melakukan tes Voluntary Counseling Test (VCT) di RSUD Wonosari.Petugas Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUD Wonosari Aris Suryanto me-ngatakan, selama Januari dan Februari klinik VCT melaksanakan pemeriksaan terhadap 28 pasien.
Dari jumlah tersebut, sembilan orang positif terjangkit HIV/AIDS.”Jumlah tersebut termasuk kategori tinggi. Pada tahun 2014, dari 150 pasien yang melakukan VCT tercatat ada 24 orang positif HIV/AIDS,” kata Aris, kemarin (23/2).
Menurutnya, kejadian ini men-jadi warning tersendiri. Sebab, tambahan sembilan orang dalam dua bulan terakhir menunjukkan kasus HIV/AIDS cukup tinggi. Sebagian besar penderita baru yang teridentifikasi merupakan pasien AIDS atau sudah dalam taraf membahayakan dibanding penderita HIV.”Bahkan dua orang penderita AIDS yang dirawat di RSUD Wonosari meninggal dunia, karena kondisinya terus memburuk meski sudah mendapatkan pelayanan medis,” ungkapnya.
Sebagai upaya pencegahan penularan HIV/AIDS, kata dia, harus dikembangkan sistem surveilans yang tepat. Sebab, selama ini kasus HIV di Gunung-kidul lebih kecil dibandingkan dengan kasus AIDS. Padahal seharusnyasebelum positif AIDS, pasien menderita HIV terlebih dahulu. “Seharusnya mengarah ke HIV terlebih dahulu, harus tersaring terlebih dahulu sebelum menjadi AIDS. Dengan begitu, bisa dilakukan pencegahan dari HIV ke AIDS,” terangnya.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Gunungkidul Iswandi mengungkapkan, kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. Semakin banyak pemeriksaan, semakin banyak pula pasien terdeteksi. “Data yang kami miliki hingga Desember 2014 ada 156 penderita HIV/AIDS di Gunung-kidul.Sebanyak 99 orang terdeteksi AIDS dan 57 orang lainnya HIV,” katanya.
Upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS,KPA Gunungkidul bersama pihak terkait terus melakukan sosialisasi. Target sosialisasi di antaranya awak angkutan kendaraan, dan karyawan pabrik.”Diakui yang melakukan tes VCT di rumah sakit belum banyak. Kita akan terus sosialisasikan terutama bagi pihak yang rawan terjangkit penyakit HIV/AIDS,” terangnya. (gun/ila/ong)