ANOM SUGISWOTO/FSTVST FOR RADAR JOGJA
LUAR BIASA: Bartajuk Tanah Indah, FSTVLST tidak hanya mengemas sebuah konser, namun juga pameran seni rupa. Hal yang tidak biasa dilakukan oleh sebuah band.

Wujud Karya Musik dan Seni Rupa Perjalanan FSTVLST

FSTVLST mampu membubuhkan tinta emas dalam dunia musik Jogjakarta. Konser Tanah Indah yang berlangsung 18 Februari lalu seakan menjadi buah manis konser di awal 2015. Euforia konser yang berlangsung di Gedung PKKH UGM Jogjakarta pun masih terasa hingga saat ini.
DWI AGUS, Jogja
TAHUN 2015 menjadi tanda semakin ber-kibarnya FSTVLST. Sebuah konser khusus digelar para penggawa band asli Jogjakarta ini. Bartajuk Tanah Indah, FSTVLST tidak hanya mengemas sebuah konser namun juga pameran seni rupa. Suatu hal yang tidak biasa dilakukan oleh sebuah band.Di luar dugaan aksi ini ternyata menda-patkan respons yang luar biasa. Dibuka dengan sebuah konser pada 18 Februari malam, acara ini berlangsung hingga 21 Februari.
Sebuah kolaborasi seni yang tidak terpikirkan oleh para musisi-musisi lainnya.”Konser Tanah Indah merupakan presen-tasi album HITS KITSCH. Juga menjadi ajang reuni dengan JENNY. Ada juga pameran seni rupa bertajuk Hampir Rock Nyaris Seni Nyaris Seni,” kata sang vokalis Farid Stevy Asta (21/2).
Rupanya FSTVLST tidak hanya ingin hadir sebagai grup musik. Sudah menjadi ciri khas bahwa FSTVLST merupakan sekum-pulan orang-orang berjiwa seni. Ini terlihat dari album terbaru mereka
Bahkan dalam setiap konser, grup musik ini selalu hadir dengan ragam unsur seni.Farid menambahkan Konser Tanah Indah merupakan pem-buktian sekumpulan pemuda ini tidak hanya grup musik. Ke-indahan bermusik mereka juga bercerita bahwa FSTVLST sebagai wahana berkarya. Sehingga musik mereka juga hadir sebagai wawasan dan wacana baru dalam dunia seni dan budaya di Jogja-karta.
“Juga wujud sebuah pre sentasi karya musik dan seni rupa atas perjalanan JENNY yang kemu-dian menjadi FSTVLST. Seluruh bentuk pencapaiannya juga jargon yang selalu diusung Almost Rock Barely Art,” kata Farid.
JENNY merupakan embrio FSTVLST saat ini. Band ini awal-nya didirikan oleh sejumah ma-hasiswa ISI Jogjakarta. Sehingga wajar saja nuansa musik dan seni rupa begitu kental dalam tubuh JENNY. Dalam per-kembangannya JENNY pun ha-rus ditidurkan karena dua per-sonelnya mengundurkan diri.Selepas kepergian Arjuna Bangsawan (bass), dan Anis Se-tiaji (drum), tinggallah Farid dan Roby Setiawan (gitar). Jiwa seni yang tinggi tidak membuat me-reka surut.
Semangat inilah yang membuat lahirnya FSTVLST dengan kedua personel barunya, Humam Mufid (bass), Danish Wisnu (drum).”Biarkanlah JENNY tertidur dan FSTVLST hadir dengan warna yang baru. Konser Tanah Indah ini merupakan impian kami sejak lama. Perlu persiapan yang matang untuk mewujud-kannya,” beber Farid.
Konser Tanah Indah FSTVLST memang terbilang fantastis. Meski band ini kerap konser dalam berbagai pertunjukan, Tanah Indah seakan sudah menjadi penantian hampir seribu Festi-valist (fans FSTVLST) malam itu. Sesuai konsep awal, Tanah Indah memadukan antara musik rock, seni rupa, visual, hingga sastra. Memasuki gerbang PKKH, penonton melewati ruang pa-meran Hampir Rock, Nyaris Seni. Sebanyak 20 perupa muda merefleksikan karya JENNY maupun FSTVLST ke dalam media seni rupa di lantai bawah ruang pamer PKKH.
Pameran ini memanfaatkan secara maksimal ruang pamer PKKH. Menapaki lantai dua, lagi-lagi suguhan karya seni ter-saji. Bedanya pameran kali ini bertajuk Retrospeksi yang me-nyajikan arsip-arsip lawas band ini. Mulai audio, video, foto-grafi, merchandise, dan me-morabilia perjalanan karir dari JENNY menjadi FSTVLST.
Penonton kemudian digiring menuju gedung sayap timur. Di tempat ini konser Tanah Indah siap menyapa ratusan fans yang hadir malam itu. Uniknya untuk konser ini Farid dkk membagi menjadi tiga sesi. Yang pertama adalah sesi di mana FSTVLST membawakan repertoar dari Hits Kitsch.”Selamat datang di tanah indah,” sapa Farid disambung tembang Tanah Indah untuk Para Ter-abaikan Rusak dan Ditinggalkan.
Beberapa lagu dengan irama kencang seperti Orang-Orang di Kerumunan, Bulan, Setan atau Malaikat, dan Satu Terbela Selalu menghajar para Festivalist malam itu. Tata cahaya dengan dominan warna merah menambah ke-kuatan konser Tanah Indah.
Tampilan visual FSTVLST pun tersaji di lima layar LED sebagai latar belakang panggung. Desain panggung bergaya seni benar-benar diwujudkan dalam konser ini. Seluruh ide brillian benar-benar dituangkan para peng-gawa band untuk konser ini.
“Kita hadirkan dunia FSTVLST dalam konser ini. Sehingga tidak hanya menikmati audio tapi juga tampilan visual,” kata Robby.Sesi kedua konser ini ternyata memang sudah ditunggu- tunggu. Suara membahana ketika Ar-juna Bangsawan, dan Anis Setiaji naik keatas panggung. Naiknya kedua personel ini menjadi pe-nanda bahwa JENNY sedang di panggung malam itu.Hebatnya, konser reuni tidak hanya sekadar konser tempelan.
Suasana kuat begitu menye limuti sesi kedua ini. Menandakan seolah-olah JENNY benar-benar bangun dan tidak menempel pada FSTVLST. Rekaman visual dengan menampilkan logo-logo JENNY terlihat mewarnai sesi kedua kali ini.”Kita benar-benar bernostalgia dengan JENNY. JENNY dan FSTV-LST memanglah berbeda tapi suatu kesatuan yang tak bisa dipisahkan,” kata Robby.
Beberapa tembang dari album semata wayang JENNY, Manifesto pun diperdengarkan. Mulai dari 120, Menangisi Akhir Pekan, Manifesto Postmodernisme, Maha Oke hingga Monster Ka-raoke. Suasana bertambah syahdu karena lagu-lagu ini dibawakan secara akustik.Tanah Indah juga menghadir-kan sesi sharing kreatif. Dia-wali pada 19 Februari dengan tema Band is a Brand. Berlanjut 20 Februari yang lalu dengan Make Gigs Happen. Kedua sesi ini menghadirkan bebera-pa praktisi profesional dalam bidang musik, media dan per-tunjukan. (*/laz/ong)