GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
DHANDHANGGULA:Suradi Dwija Saputra, memberi materi tembang Macapat di Pamulangan Sekar Macapat, Jalan Rotowijayan, Jogja, Selasa (24/2).

Penggunaan Bahasa Jawa pun Mulai Bergeser

UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan menyatakan tanggal 21 Februari adalah Hari Bahasa Ibu Internasional. Nah di Jogjakarta, bahasa ibu-nya adalah bahasa Jawa. Bagaimana eksistensi bahasa Jawa di provinsi ini?
BAHASA Jawa yang menjadi bahasa ibu dari hampir separo penduduk di republik ini, mempunyai dua dialek besar, yakni dia-lek sosial dan dialek daerah. Masyarakat Jawa pada dasarnya adalah masyarakat pe-tani, di mana terdapat susunan hirarki yang menjadi pedoman bermasyarakat di dalam-nya
Sistem semacam itu, berpenga-ruh pada bahasa. Karena harus menghormat kepada orang-orang yang lebih tinggi baik dari usia, status di masyarakat, maupun wibawanya.Akibatnya, bahasa Jawa menge-nal ragam yang disebut sebagai bahasa Jawa kromo, madya dan ngoko. Pembagian semacam ini muncul pada masa awal Kera-jaan Mataram pimpinan Sultan Agung, di mana pada sebelum-nya, bahasa Jawa tidak menge-nal susunan semacam itu.
Dalam tingkat tutur ngoko, tidak ada perbedaan antara lawan bi-cara, di samping digunakan ke-pada orang-orang yang ada di lapisan sama ataupun sebaya. Sedangkan kromo dicitrakan sebagai tingkatan sopan santun dalam berbicara, menunjukkan ‘keanggunan’ dalam berbicara, serta dianggap njawani. Tingka-tan ini dipakai oleh para bawahan atau orang-orang di bawah, mau-pun dalam keadaan resmi. Serta untuk orang yang belum dikenal.
Koordinator Seksi Pembakuan dan Perlindungan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi DIJ Edi Setianto mengatakan, sebenarnya bahasa Jawa ngoko adalah dasar dari se-mua kosakata bahasa Jawa. Ka-rena itulah, bahasa Jawa kromo tidak dapat disetarakan dengan ragam ngoko, karena terlalu ba-nyaknya kata ngoko yang tidak memiliki padanan kromo-nya. “Jumlah kosakata ngoko men-capai ratusan ribu, sedangkan kromo hanya berjumlah sekitra 850 kata, bahkan untuk kromo inggil hanya berjumlah sekitar 250 kata,” ujarnya.
Lebih jauh dikatakan, bahasa Jawa masih sangat identik dengan masyarakat Kota Jogja. Selain masih menjadi bahasa percaka-pan sehari-hari, bahasa Jawa juga banyak digunakan sebagai identitas papan penanda wi-layah. Sayangnya, penggunaan bahasa Jawa dalam papan pe-nanda tersebut belum sesuai bahasa baku.
Salah satunya seperti yang di-pasang sebagai papan penanda di Sungai Winongo di jembatan Serangan, Jalan RE Martadinanta Jogja, dengan tulisan dalam aksa-ra Jawa dan latin. Dalam papan tersebut tertulis ‘Kali Winongo’. Sekilas memang tidak ada yang salah, tapi ketika menggunakan bahasa Jawa baku, baru terlihat kesalahannya. Dalam konstruksi bahasa Jawa baku, vokal a yang tidak diikuti dengan konsonan sebagai penutup, dibaca o.
Kesalahan tidak hanya dilaku-kan oleh pemerintah, masyarakat juga banyak yang melakukan kesalahan serupa. Paling tidak hal itu terlihat dalam penamaan warung, atau restoran. Masih banyak ditemui restoran yang menuliskan kata Jowo bukan Jawa. “Orang sekarang tidak bisa membedakan variasi pengucapan secara lisan vokal a,” terangnya.
Yang membuat lebih miris, para pemilik warung tersebut termasuk golongan tua yang dianggap paham tentang sistem tata tulis bahasa Jawa seperti itu. Edi mengatakan, golongan tua tersebut pada masa kecilnya tentu akrab dengan sistem tata bahasa Jawa seperti itu. “Diban-dingkan dulu 1980-an, sudah banyak penurunan dalam segi kualitas penggunaan bahasa Jawa,” tandas Edi.
Untuk percakapan sehari-hari pun, penggunaan bahasa Jawa yang sesuai, sudah tidak sesuai ragam baku. Di antaranya dengan menggabungkan antara bahasa Jawa ngoko dan kromo. Dalam pertemuan resmi tingkat warga pun, bahasa Jawa sudah mulai ditinggalkan. Edi men-contohkan seperti rapat RT/RW, upacara pemakaman atau pen-gumuman, lebih sering meng-gunakan bahasa Indonesia.
Dia menyebut beberapa faktor yang menyebabkan hal itu. Se-perti penguasaan bahasa Jawa untuk kegiatan formal atau seba-gai bentuk kompromi, karena di lingkungannya banyak pendatang. “Biasanya karena takut salah, dan khawatir ada warga yang tidak mengerti, akhirnya menggunakan bahasa Indonesia,” tuturnya.
Dalam kehidupan sehari-hari untuk berkomunikasi, biasanya juga menggunakan bahasa Jawa ngoko. Padahal dalam bahasa Jawa, ada tingkatan bahasa Jawa ngoko, ma dya, kromo dan kromo inggil di-se suaikan dengan lawan bicaranya. “Kalau ingat dulu, saat anak kecil mau jajan di warung, ketika dia salah dalam mengucapkan kata dalam bahasa Jawa akan dibetulkan penjualnya, sebelum dilayani. Hal seperti itu sudah tidak dijumpai saat ini,” terangnya.
Bahkan banyak didapati anak kecil di Jogja saat ini sudah tidak bisa berbahasa Jawa. Bukan tan-pa sebab, orang tuanya tidak mengajari anaknya berbahasa Ja wa. Menurut Edi, hal itu dikare-nakan bergesernya orientasi orang tua saat ini, yang melihat pa da fungsi ekonomi. “Banyak orang tua beranggapan lebih penting bisa bahasa Ing-gris, sehingga sejak kecil sudah les bahasa Inggris. Kalau bisa bahasa Jawa, bisa dapat perker-jaan tidak,” terangnya.
Kekhawatiran tergerusnya peng-gunaan bahasa Jawa di kalangan masyarakat, juga ditandai dengan makin sedikitnya peminat juru-san bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, minat masyarakat yang mene-kuni belajar bahasa Jawa di UNY terus menurun, tidak tanggung-tanggung mencapai 50 persen. Pada tahun ajaran (TA) 2012/2013 mahasiswa Jurusan Bahasa Jawa di UNY mencapai 2.058 orang. Angka tersebut mengalami penurunan pada tahun berikutnya, yaitu 1.511 orang pada TA 2013/2014.
Penu-runan mahasiswa bahasa Jawa terus merosot pada tahun lalu. Pada TA 2014/2015 mahasiswa baru yang mengambil Jurusan Bahasa Jawa tinggal 934 orang.”Dari data yang kami miliki, peminat jurusan bahasa Jawa dari tahun ke tahun terus menga-lami penurunan,” ungkap Pani-tia Penerimaan Mahasiswa Baru UNY Setyo Raharja kepada Ra-dar Jogja kemarin (24/2).
Setyo menerangkan, berbagai faktor melatarbelakangi menu-runnya masyarakat belajar ba-hasa Jawa di UNY. Antara lain, masyarakat menganggap masa depan sarjana bahasa Jawa ku-rang menjanjikan, tidak ada ins titusi yang menyerap lulusan bahasa Jawa, dan mulai meredup-nya masyarakat yang mengguna-kan bahasa Jawa dalam kehidu-pan sehari-hari.”Jangan sampai bahasa Jawa hilang ditelan zaman. Agar ba-hasa Jawa tetap eksis, ini menjadi tanggung jawab kita semua, teruta-ma pemerintah,” terang Setyo.
Setyo mengusulkan perlu ada-nya peran aktif pemerintah agar bahasa Jawa tetap eksis di tengah masyarakat. Ia meminta pemerin-tah membuat regulasi yang menga-tur mengenai bahasa daerah/adat yang ada di Indone sia, se-perti bahasa Jawa, bahasa Ma-dura, bahasa Batak, dan bahasa suku lain yang ada di Indo nesia. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mewajibkan pegawai institusi pemerintahan agar menggunakan bahasa dae-rah sesuai daerah masing-masing. “Jangan sampai bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia hilang ditelah zaman,” pintanya.
Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa UNY Zamzani menam-bahkan, tiga tahun lalu animo masyarakat yang belajar bahasa Jawa masih tergolong tinggi. Namun seiringnya waktu, minat masyarakat menurun. Menurut Zamzani, dulu minat belajar bahasa Jawa tinggi, ka-rena pemerintah daerah mewa-jibkan siswa belajar bahasa Jawa dan pegawai menggunakan ba-hasa Jawa dalam bekerja. “Dulu kebutuhan guru bahasa Jawa banyak, sehingga masyarakat yang belajar bahasa Jawa tinggi. Tapi situasi sekarang berbeda, kebu-tuhan guru bahasa Jawa sedikit, hingga yang belajar bahasa Jawa juga sedikit,” kata Zamzani.
Agar bahasa daerah tersebut tetap eksis di tengah masyarakat, ia meminta kepada pemerintah agar turun tangan. Maksudnya, pemerintah diminta membuat kebijakan berkaitan penggu-naan bahasa Jawa. “Kalau pemerintahnya tidak peduli terhadap bahasa Jawa dan bahasa daerah lain, maka dapat dipastikan bahasa daerah di Indonesia akan punah,” jelasnya. (pra/mar/jko/ong)