JOGJA – Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pen-jualan tanah aset UGM, kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jogja kemarin (23/). Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) sempat mempertanyakan asal usul uang Yayasan Fapertagama yang dideposito-kan ke bank dan rekening tabungan pribadi sejumlah pengurus yayasan, yaitu Wicaksono, Doni, dan Bedjo. Mendengar pertanyaan tersebut, ke-3 saksi kom-pak menjawab tidak mengetahui asal usul uang tersebut. “Kami tidak tahu dari mana asal usul uang itu. Yang kami tahu, uang itu milik yayasan, dan saya tahunya dari pengurus yayasan yang lama, Pak Tri (Triyanto),” kata Bedjo, Doni, dan Wicaksono saat memberikan kesaksian di hadapan majelis hakim yang dipimpin Sri Mumpuni.
Selain tidak mengetahui asal usul uang ratusan juta rupiah yang disimpan di rekening pribadinya, saksi tidak mengetahui adanya tim penjualan tanah yang dibentuk yayasan. Para saksi mengetahui ada tim penjualan tanah, sesaat setelah dimintai kete-rangan tim penyelidik Kejati DIJ. Sebelumnya, da-lam berbagai forum rapat, tidak pernah ada pem-bicaraan mengenai pembentukan panitia/tim penjualan tanah. “Saya tahunya ada tim penjual tanah setelah disidik kejaksaan,” terang Wicaksono.Sementara itu, dalam persidangan penasihat hu-kum terdakwa, Augustunus Hutajulu SH sempat mengajukan pertanyaan mengenai banyaknya ba-rang bukti dokumen yang pernah disita penyidik dari tangan yayasan. Menurut Bedjo, barang bukti yang disita penyidik kala itu, lebih banyak daripada yang dihadirkan di persidangan.”Tidak segini, lebih dari ini yang disita. Saat itu saya tidak mau menandatangani karena berkas penyitaan dengan waktu penyitaan tidak bersam-aan,” terang Bedjo. (mar/jko/ong)