RADAR JOGJA FILE
LANGKA: Sri Hastuti (kiri) di sela-sela melatih tim sepak bola putri di Lapangan Nogotirto, Gamping, Sleman

Pakai Pendekatan Personal, Obsesi Cetak Pemain Berkualitas

Perempuan menyukai sepak bola? Ah, biasa saja.Tapi, tak banyak kaum perempuan yang mau terjun secara total menggeluti dunia sepak bola. Apalagi memilih profesi sebagai pelatih. Sri Hastuti termasuk dari jumlah yang sedikit itu.
MIFTAHUDIN, Sleman
LAHIR dari keluarga pengge-mar olah raga, Sri Hastuti atau yang akrab disapa Itut kini men-jadi pelatih yang memiliki li-sensi/ sertifikat dari PSSI. Ia menjadi satu di antara dua pe-latih sepak bola putri di Jogja. Tapi, boleh jadi hanya dia yang memakai lisensi itu untuk me-latih klub.Lisensi sebagai pelatih dia dapatkan usai mengikuti kursus pelatih yang diadakan Pengprov PSS DIJ beberapa waktu lalu.
Sertifikat menjadi pembuktian kapasitasnya sebagai perem-puan pelatih sepak sepak bola. Meskipun kemampuannya me-latih sepak bola sudah dia te-kuni sejak beberapa tahun terakhir.Dari tangan dingin mantan pemain timnas putri ini, lahir beberapa pemain yang masuk ke tingkat nasional. Sebut saja Sugiati Cindy yang pernah me-rasakan atmosfer menjadi pung-gawa timnas putri 2003 dan 2010. Selain itu, masih ada beberapa nama lain lagi.
Sri Hastuti per-nah membawa tim putri DIJ menjadi runner up U-18 di ting-kat nasional 2008 silam. Itut juga menggenggam prestasi lainnya baik sebagai pemain maupun pelatih.Perempuan yang akrab disapa Itut ini mengawali menjadi pe-main sepak bola sejak 1981. Setahun berikutnya, dia sudah masuk ke kejuaraan di tingkat nasional dan menjadi salah satu pemain pilar timnas. Cukup lama dia malang melintang di jagad sepak bola putri, baru 2006 silam dia memutuskan berhen-ti bermain dan memilih men-ekuni menjadi pelatih. Banyak alasan yang membuat mantan guru olah raga ini me-milih menjadi pelatih sepak bola putri. Secara khusus dia ingin menularkan ilmu yang dimilikinya.
Dan kegemarannya bermain sepak bola sejak kecil membuatnya enjoi menekuni olah raga terpopuler sejagad ini.Alasan lain, dibandingkan pe-latih laki-laki, pelatih sepak bola perempuan memiliki pen-dekatan berbeda dengan pemain perempuan. “Mereka lebih ter-buka dan lebih enjoy jika dilatih perempuan dibandingkan jika dilatih laki-laki. Karena itu tidak heran jika secara personal an-tara kami terasa sangat dekat,” tambahnya di sela mendampingi anak asuhnya melakukan latihan rutin di Lapangan Nogotirto Gamping Sleman kemarin
Kedekatan dan pendekatan personal membuat para pemain merasa dekat dan nyaman men-jalani latihan. Meskipun kedi-siplinan tetap ditekankan di setiap latihan. Hukuman dan punishment tetap diberlakukan.Tak jarang, untuk memberikan bekal latihan agar lebih berarti dan meyakinkan, Itut sengaja membawa anak asuhnya untuk menjalani laga uji coba dengan tim cowok. (*/ong)