JOGJA – Pasca keluarnya kebijakan dari Kementerian Pendidikan RI bahwa kelulusan siswa menjadi kewenangan sekolah, atau tak dipengaruhi oleh hasil Unas lagi, Pemerintah Provinsi DIJ melalui Dinas Pendidikan, Pe-muda, dan Olahraga (Disdikpora), menem-patkan bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajaran pokok di sekolah. Namun, tampaknya tak semudah membalikkan telapak tangan. Upaya untuk mengajarkan bahasa Ibu (ba-hasa Jawa) di Jogja, terkendala dengan ke-terbatasan tenaga pengajar.
Hal itu seperti yang terjadi di SMAN 1 Jogja. Saat ini, sekolah yang mendapat julukan SMA Teladan tersebut, hanya me-miliki seorang guru bahasa Jawa. Dalam seminggu, guru tersebut harus mengajar 29 kelas. Untuk menyiasati agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung, pihak sekolah terpaksa mengurangi alokasi pem-belajaran di setiap jenjang.”Untuk kelas X dan kelas XII hanya me-nerima satu jam pelajaran perminggu. Sedangkan kelas XI dua jam pelajaran,” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kuri-kulum SMAN 1 Jogja Asrori kepada Radar Jogja, Selasa (24/2).
Ditegaskan, idealnya satu sekolah, dip-erlukan tiga guru mapel agar masing-masing kelas bisa diampu dua jam per minggu. Apa lagi, sesuai aturan daerah, bahasa Jawa ditetapkan sebagai muatan lokal (mulok) wajib dari jenjang SD sam-pai dengan menengah atas. “Ini memang masih menjadi persoalan di sekolah kami. Pada hal untuk siswa ke-las XII, nilai bahasa daerah menjadi salah satu penentu kelulusan. Dan setiap akhir semester kelas XII, dilakukan penilaian akhir bahasa Jawa,” paparnya.
Disinggung mengenai penerapan bahasa Ibu di sekolah, Asrori menjelaskan tidak ada waktu khusus penggunaan bahasa Ibu di SMAN 1 Jogja. Meski diakui, pihak sekolah pernah menerapkan hal tersebut. “Kami tidak ada kewajiban siswa untuk bisa berbahasa Jawa, yang penting tata krama budaya Jawa bisa diserap dengan baik,” pungkasnya.
Pengurus Majelis Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Jogja, AY Suharyo-no mengakui, keterbatasan guru bahasa Jawa terutama di wilayah Jogja. Saat ini baru ada 28 guru bahasa Jawa. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan jumlah sekolah menengah atas yang me-lebihi jumlah guru. “Akhirnya ada guru-guru yang mengajar ada yang lebih dari satu sekolah,” terangnya.
Menurutnya, minimnya jumlah guru disebabkan ketersediaan guru bahasa Jawa masih mengandalkan dari Universi-tas Negeri Yogyakarta. Ironisnya lagi, tidak semua lulusan berminat menjadi guru pengampu bahasa daerah.”Akhirnya untuk mendapatkan guru ba-hasa Jawa, harus menunggu wisuda dan berhadap ada yang benar-benar minat menjadi pengajar,” terangnya.
Pria yang mengajar di empat sekolah ini menuturkan, setelah tahun 1991, minat masyarakat untuk mendalami bahasa Jawa di bangku kuliah cukup besar. Hal ini yang mengikis kekhawatiran hilangnya bahasa Ibu di Jogjakarta.Selama di sekolah, pihaknya pun tidak semata-mata mengajarkan bahasa Jawa. Namun, tata budaya Jawa juga dikenalkan kepada para siswa. Terutama bagi mereka yang datang dari luar Jogja. “Bukan hanya bahasa, budaya juga harus tertanam pada siswa,” terangnya.
Berbeda dengan SMA, di SD guru ba-hasa Jawa, tercukupi. Ini dikarenaka setiap guru wajib mengampu pelajaran bahasa ibu. “Ini karena level penguasaannya lebih rendah dibandingkan dengan SMP mau-pun SMA,” terang Kepala Sekolah SDN Karangrejo, Hasan Rohadi.Dia mengatakan, untuk kelas 1-3, murid belum dikenalkan pelajaran menulis aksara Jawa. Pengenalan bahasa Jawa mu-lai dilakukan sejak siswa kelas IV.Sebagai mulok wajib, setiap minggunya murid mendapatkan jam alokasi waktu dua jam pelajaran. Degan ujian bahasa di sitiap semester. “Penguasaan bahasa Jawa me-mang harus diberikan sejak usia dini, ka-rena ini untuk menjaga eksistensi bahasa Ibu agar jangan sampai punah,” terangnya.
Salah satu siswa SMA di Jogja, Galih mengaku beruntung dapat mempelajari materi bahasa Jawa. Meski dirasa apa yang didapat sangat kurang, karena perming-gunya haya satu jam pelajaran.Sebagai pendatang, dirinya sangat ter-bantu dengan pelajaran bahasa Jawa yang didapat. Namun kebanyakan, dirinya ba-nyak belajar dari teman-teman. “Yang dida-pat kebanyakan dari teman yang sifatnya bahasa pergaulan sehari-hari,” terangnya.Disinggung materi yang diterima dari sekolah, dia menjelaskan bahwa selama ini mendapatkan pelajaran tentang aka-sara dan pengucapan bahasa Jawa. Dirinya juga belajar tentang berbagai budaya Jawa yang meliputi karya sastra dan seni. “Ka-mi juga dituntut untuk menguasai karya tersebut, karena ada penilaiannya,” jelas-nya. (bhn/jko/ong)