ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
MELANGIT: Para pedagang mengeluhkan kesulitan mendapatkan beras. Bahkan mereka harus menunggu sampai dua hari untuk mendapatkan pasokan.

Stok Beras Aman Sampai Panen Raya

SLEMAN – Harga beras di pasaran terus merangkak naik. Itu diduga akibat kelangkaan stok di tingkat petani yang mengalami gagal panen. Kendati begitu, Kepala Dinas Per-tanian, Perikanan, dan Kehutanan (Dispertanhut) Sleman Widi Sutikno mengklaim stok beras aman. Seti-daknya untuk mencukupi kebutu-han konsumen sampai dua pekan ke depan. Atau hingga saat panen raya yang diperkirakan awal Maret.
Widi menengarai, lonjakan harga beras lebih karena adanya sentimen pasar terkait suplai. Bukan karena kelangkaan stok barang. Tetapi ada masalah dalam pendistribusian ba-rang. Itu menyebabkan kelangkaan barang di pasaran namun jumlah pembeli tetap, sehingga harga me-lambung. “Padahal stok mencukupi, kok,” ujarnya kemarin (24/2). Widi mendasarkan pendapatnya berdasarkan hasil pendataan dinas terhadap hasil panen sampai ming-gu ini. Dari total 22 ribu hektare lahan persawahan, seluas 4.790 hek-tare telah dipanen. Rata-rata hasil produksi per hektar menghasilkan 6,3 ton gabah kering. Artinya, stok gabah tersedia mencapai 30.177 ton.
Tidak didistribusikannya beras bagi warga miskin akibat ada kesa-lahan prosedur administrasi, men-urut Widi, termasuk penyebab lain masalah tersebut. “Solusinya, ya, operasi pasar,” ungkapnya.Ketua Komisi B DPRD Sleman Nur Hidayat melihat adanya permainan oleh mafia padi atau tengkulak. Menurut Dayat, begitu sapaan akrabnya, hal itu bukan masalah baru. Menurutnya, hampir setiap men-jelang panen raya, harga beras melam-bung tinggi. Dayat menduga ada pedagang besar yang sengaja menimbun gabah atau beras. Hasil panen baru dijual lagi saat harga mencapai titik puncak. “Ini siklus. Selalu seperti itu setiap tahun, ” ujar politikus PAN itu.
Dari penelusurannya ke petani di wilayah timur Sleman, Dayat tidak mendapati satupun yang mengalami gagap panen. Sebagian besar petani menunggu padi menua untuk se-gera dipanen. “Jadi saya kira belum perlu operasi pasar,” sambung aktivis pemuda asal Selomartani, Kalasan.
Dayat mengatakan, melambung-nya harga beras menjadi pencer-matan serius kalangan dewan. Untuk menyikapinya, Komisi B akan memanggil dinas terkait untuk membahas masalah tersebut. Agar harga beras lebih stabil. Dari hasil koordinasi dengan eksekutif baru-lah bisa disimpulkan perlu dan tidaknya operasi pasar. Masalah warga kesulitan menda-patkan beras karena harga mahal sebenarnya pernah disinggung oleh dewan dalam pem-bahasan dengan tim eksekutif.
Namun hal itu tak sampai pada tahap kesim-pulan karena pem-bahasan tidak fokus membicarakan lonjakan harga be-ras. Hal lain yang selalu terjadi saat harga produk pertanian melambung di pasaran adalah nasib petani yang tak mujur. Ya, itu lantaran sebagian besar petani hanya bisa menjual hasil panen kepada tengkulak atau pedagang besar dengan harga yang telah dipatok. Tak jarang, padi be-lum masuk masa panen pun sudah dibeli oleh tengkulak.
Bagi petani, asal harga cocok dan tak kurang dari modal yang dikelu-arkan, biasanya tak jadi masalah. Yang lebih ironis, ada kekhawatiran petani saat panen raya harga gabah/beras akan jatuh, sehingga mereka melepas hasil panen kepada teng-kulak dengan harga rendah.Saksono, 50, petani asal Moyudan, salah satunya. Dia hanya bisa pasrah saat gabah kering basah (GKB) IR 64 atau Ciherang hanya dihargai Rp 4.200 per kilogram. Untuk gabah kering panen Rp 5.100. Sedangkan gabah yang sudah dikelupas kulitnya menjadi beras dihargai antara Rp 6.500- Rp 7.000 per kilogram. “Pe-tani kecil hasilnya sedikit. Untung-nya juga kecil,” katanya kemarin.
Pria paruh baya itu menuturkan, tiap petani sedikitnya harus mero-goh kocek Rp 2 juta sebagai modal menanam padi di lahan seluas 2 ribu meter persegi. Itu sudah ter-masuk biaya perawatan, pupuk, dan tenaga. Tapi belum termasuk biaya untuk membasmi hama, khu-susnya tikus. Hewan pengerat itu menjadi langganan musuh petani di wilayah Moyudan dan sekitarnya. Dalam kondisi normal, areal ter-sebut bisa menghasilkan sedikitnya 7-8 kuintal gabah. “Kalau tikus me-rajalela kami tekor. Bahkan gagal panen. Itu sering terjadi di wilayah sini,” ungkapnya. Tak ingin merugi terus-menerus, saat panen raya, Saksono pilih men-jual hasil panennya langsung ke pasar dalam wujud beras. Dengan begitu dia bisa memperoleh selisih harga sebagai keuntungan. (yog/din/ong)

Penggilingan Gabah Kehabisan Stok

SEWON – Tidak hanya para pe-dagang yang mengeluhkan melam-bungnya harga beras selama sepu-luh hari terakhir. Ternyata, peng-elola penggilingan gabah juga mengeluhkan tipisnya persediaan. Salah satunya Zubaidi, pengelola penggilingan gabah di Sudimoro, Timbulharjo, Sewon. “Sejak Ja-nuari stok gabah habis,” terang Zubaidi, kemarin (24/2).
Dia tidak menyangka menurunnya persediaan gabah yang berdampak pada naiknya harga beras bakal ber-tahan hingga akhir Februari. Sebab, tahun-tahun sebelumnya stok gabah mulai melimpah kembali saat me-masuki bulan Januari. “Biasanya Januari harga beras turun,” ujarnya.
Menurutnya, mesin penggilingan padi miliknya masih beroperasi. Namun demikian, dia hanya meng-giling gabah sesuai pesanan. Dia tak berani berspekulasi mengambil gabah dari luar Bantul karena kha-watir harga beras bakal anjlok se-cara tiba-tiba. “Gabah petani lokal banyak yang gabuk,” jelasnya.
Buruknya cuaca belakangan ini memicu banyak petani gagal panen. Sementara itu, Sri Sumarni, salah satu pedagang beras di Pasar Bantul menuturkan, menipisnya stok beras dari petani lokal mendorongnya kulakan ke distributor. Hanya saja, oleh distributor beras pesanan baru akan dikirimkan dua hari kemudian.”Harus pesan dulu karena yang kulakan juga ngantre,” ungkapnya.
Biasanya, sebelum terjadi kenaikan harga beras, pesanan beras langsung dikirim distributor.Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul Sulistyanta menyampaikan kenaikan harga beras karena menurunnya persediaan gudang penyimpanan gabah. Penyebabnya, stok dari para petani menurun. “Saat ini kan rata-rata baru mulai musim tanam. Belum ada yang panen raya,” bebernya.
Sulis memperkirakan naiknya harga beras bakal terjadi hingga bulan Maret mendatang. Harga bakal turun seiring mulai adanya panen raya di sejumlah daerah penghasil padi. “Kalau harganya nanti tidak rasional ya perlu dila-kukan operasi pasar,” tegasnya.Dari pantauan, sejak sepuluh hari terakhir harga beras jenis IR 64 naik dari Rp 8.500 menjadi Rp 10.000 per kilogram. Sedangkan jenis menthik wangi naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 12.000 per kilogram. (zam/din/ong)

Harga Beras Melonjak karena Petani Gagal Panen

SLEMAN – Curah hujan yang masih relatif tinggi berdampak pada sek-tor pertanian. Sebagian petani di wilayah Sleman mengalami gagal panen. Itu berdampak minimnya stok beras di pasaran. Akibatnya, harga bahan pokok tersebut meng-alami kenaikan cukup signifikan. “Rata-rata naik seribu rupiah,” ungkap Nurjanah, 55, pedagang sembako di Pasar Gentan, Ngaglik kemarin (23/2).
Jenis beras yang naik harga di antaranya C4 yang semula berkisar Rp 9.600 per kilo-gram menjadi Rp 10.800 – Rp 11.000.Nurjanah menengarai kenaikan harga beras C4 akibat jenis tersebut paling banyak ditanam oleh petani. Beras warna putih kecoklatan itu termasuk komoditas paling banyak dicari oleh konsumen. Itu lantaran C4 dianggap cukup murah dan layak konsumsi dibanding beras jenis lain, seperti rojo lele, mentik wangi, atau pandan wangi. Tiga jenis beras ini harganya lebih dari Rp 11 ribu per kilogram. “Kalau barangnya langka di petani, di pasar juga stok sedikit. Nah, biasanya harga naik,” tuturnya.
Mantodirejo, 66, petani asal Pakem, menuturkan hujan deras berhari-hari menyebabkan lahan sawahnya harus dipanen lebih dini. Banyak batang padi tumbang setelah di-terjang arus air irigasi yang meluap ke sawah. “Kelep banyu parine am-bruk (tergenang air padinya roboh, Red),” ungkap kakek lima cucu itu.Hasil panen tidak maksimal me-maksa Mantodirejo hanya meman-faatkan padi di sawah untuk kebu-tuhan sendiri. Padahal, biasanya separo hasil panen dijual ke pasar. Cuaca buruk juga menimpa Suradi, 55, petani di Ngaglik. Dari lahan selu-as seribu ubin yang dikelolanya hanya bisa dipanen tiga perempat bagian. Hanya tanaman di bagian tengah yang bisa dipanen sampai usia tiga bulan. Menurutnya, cuaca buruk menjadi biang gagal panen hingga stok beras di pasaran tipis. “Harga jual dari pe-tani memang lebih tinggi. Karena memang langka,” ujarnya.
Harga tinggi di tingkat petani bukan tanpa alasan. Suradi mengatakan, jika dijual dengan harga murah, pe-tani merugi. Selain itu, dia tak bisa membeli bibit sebagai bahan baku musim tanam selanjutnya. “Tekor. Itu juga belum termasuk biaya pupuk, semprot, dan tenaga,” lanjutnya. Menurut Suradi, harga beras bak-al kembali normal jika hasil panen bagus. Harga panen akan turun sampai titik terendah kala musim panen raya. Selain adanya permainan oleh tengkulak, para petani buru-buru menjual panen karena khawa-tir tidak laku. Dengan begitu, peda-gang besar bisa menawar harga serendah-rendahnya. (yog/din/ong)