RADAR JOGJA FILE
POTENSI: Dalam menarik wisatawan asing, perlu mengembangkan wisata berbasis budaya. Salah satunya pengembangan kampung-kampung wisata yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.
JOGJA – Dibandingkan dengan Bali, lama tinggal wisatawan asing di DIJ masih sangat rendah. Ini disebabkan masih minimnya objek wisata Jogjakarta yang ber-basis budaya. Hal tersebut disam-paikan oleh pengurus ASITA DIJ Sisca Diwati ditemui Radar Jogja, Selasa (24/2).”Jogjakarta masih banyak ber-gantung pada Borobudur dan Prambanan. Belum banyak men-jual daerah wisata yang benar-benar menggambarkan identitas Jogjakarta,” kata Sisca.
Dia mengatakan, dibandingkan Bali, Jogjakarta masih kekurangan destinasi wisata berbasis budaya. Selain bertumpu pada Borobudur dan Prambanan, pariwisata Jog-jakarta hanya mengandalkan objek wisata seperti Keraton Jogja, Taman Sari, Lava Tour dan Kota Gede.Namun sayangnya, ikon wisata tersebut belum dikemas secara maksimal sehingga belum mampu menarik wisatawan untuk tinggal lebih lama. Karena bila diban-dingkan dengan negara tetangga seperti Thailand yang mengede-pankan wisata spiritual, Jogjakarta masih jauh tertinggal.
Disamping itu, jelas Sisca, pe-merintah daerah juga harus men-dukung objek wisata baru berbasis budaya yang banyak dikembang-kan oleh masyarakat. Pengem-bangan kampung-kampung wi-sata harus benar-benar mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.Salah satu dukungan yang dapat diberikan oleh pemerintah ialah dengan segera membangun ban-dara internasional yang rencana-nya akan dibangun di Kulon-progo. Menurutnya, selama ini destinasi penerbangan dari Ban-dara Adisutjipto masih sangat terbatas.
Berbeda dengan ban-dara di Bali yang sudah melayani berbagai destinasi keberbagai negara tujuan.Banyak bergelut di travel agen, dia menyebut, wisatawan asing menginginkan tempat-tempat yang benar-benar eksotis dan kental kultur budaya suatau dae-rah. Sebab wisatawan asing mela-kukan perjalanan wisata, bertu-juan mencari sesuatu yang benar-benar berbeda dari tempat asal-nya. “Jadi bukan hanya menjual hotel saja. Harusnya objek wisa-tanya yang lebih dikedepankan,” jelasnya. (bhn/ila/ong)