SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
BEBER DATA: Direktur Binmas Kombes Pol Cahyo Budisiswanto dan Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti saat memberikan keterangan kepada para wartawan kemarin (24/2).
SLEMAN – Aksi premanisme di wilayah Jogjakarta cukup meng-khawatirkan dan menimbulkan keresahan masyarakat. Aksi pe-merasan, pemalakan, pelecehan seksual, penganiayaan, hingga pembunuhan menjadi mewarnai aksi para preman, baik siang mau-pun malam.Nah, tidak ingin aksi prema-nisme semakin merajalela, Polda DIJ menggelar Operasi Bina Ku-suma Progo 2015 selama 14 hari, pada 9-22 Februari 2014. Hasilnya cukup sebagai bukti bahwa ter-nyata Jogjakarta tidak seaman jargonnya sebagai wilayah yang berbudaya dan santun.
Direktur Binmas Kombes Pol Cahyo Budisiswanto mengatakan, dari 46 kali kegiatan razia di objek-objek vital dan pusat keramaian, petugas mendapati puluhan ka-sus terkait premanisme yang melibatkan kelompok/komunitas, maupun yang dilakukan perseo-rangan. Dari jumlah itu, sembilan kasus di antaranya dilanjutkan hingga tahap penyidikan, dengan 15 ter-sangka. Antara lain, satu kasus pemerasan dengan pelaku mem-bawa sajam (Kota Jogja), mem-bawa senpi rakitan jenis revolver tanpa izin (1 kasus di Sleman), membawa sajam dan percobaan pencurian (1 kasus di Kota Jogja), dan penganiayaan (1 kasus di Bantul). Serta lima kasus pen-jualan miras.
Masing-masing di Kota Jogja, Sleman, dan tiga kasus di Kulonprogo. Barang bukti yang disita berupa 229 botol miras berbagai merek.Selain itu, aparat juga melakukan pembinaan dan penyuluhan se-banyak 68 kali kepada pelajar sekolah (15 kali), tukang parkir (12), debt collector (4), pengamen (20), dan kelompok motor (5), serta perseorangan (12).Sasaran operasi adalah tempat nongkrong, terminal, stasiun, pasar, sekitar traffic light, jalur jalan raya yang biasa dilalui konvoi kendaraan bermotor, kawasan yang biasa untuk pes-ta miras, dan objek swasta. “Sa-jam, narkoba, miras, dan senpi, serta pelaku premanisme baik perseorangan atau kelompok jadi fokus utama,” ujar Cahyo kemarin (24/2).
Perseorangan atau komunitas yang dimaksud adalah subjek yang berpotensi melakukan tinda-kan penimbul keresahan masya-rakat. Atau mengganggu kamtib-mas. Cahyo mencontohkan, pengamen yang suka memaksa atau kelompok motor ugal- ugalan di jalan raya. Juga tukang parkir liar yang menarik biaya lebih tinggi dari ketentuan dan debt collector yang memaksa pengen-dara motor menyerahkan ken-daraan kreditnya. “Menagih hutang dengan cara memaksa atau mengancam juga menjadi sasaran operasi,” lanjut perwira menengah polisi dengan melati tiga di pundak.
Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti menambahkan, miras menjadi salah satu sasaran utama karena dianggap meresa-hkan warga. Sebab, dari pengaruh alkohol dalam kandungan miras, seseorang bisa melakukan tinda-kan jahat. Pengaruh alkohol juga kerap dijadikan tersangka sebagai alasan atas tindakan kriminal yang dilakukan. (yog/din/ong)