RADAR JOGJA FILE
TANDUR: Di sejumlah wilayah di Sleman dan Bantul masih banyak ditemui petani yang melakukan penanaman padi. Irigasi yang lancar, memungkinkan musim tanam bisa dilakukan beberapa kali dalam setahun. Di sebagian wilayah lainnya ada yang sudah melakukan panen.
PIYUNGAN – Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dis-perindagkop) Bantul memastikan ketersediaan beras di Bulog aman meski harga salah satu kebutuhan pokok tersebut melambung. Karena itu, Disperindagkop pun meminta agar pemerintah pusat tidak menge-luarkan kebijakan impor beras.”Cadangan kita masih cukup untuk dua bulan,” tegas Kepala Disperindagkop Sulistyanta di sela-sela melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Komisi B DPRD Bantul di Pasar Piyungan, kemarin (25/2).
Menurutnya, Disperindagkop bersama Bulog dalam waktu dekat ini bakal menggelar operasi pasar. Target operasi pasar ini adalah kawasan padat penduduk. Tujuannya, untuk membantu warga yang kesulitan mendapatkan beras karena saking mahalnya. “Sasaran utamanya adalah warga kurang mampu,” ujarnya.
Usai sidak di salah satu pasar terbesar di Bantul ini Sulis mengaku tidak menemukan praktik penimbunan. Para tengkulak sudah mendistribusikan beras kepada para pedagang di pasar-pasar tradisional. Karena itu, Sulis pun memastikan melambungnya harga beras belakang-an ini bukan karena permainan tengkulak, melainkan akibat musim tanam padi mundur. “Panennya pun akhirnya juga mundur,” tandasnya.
Sulis juga menjamin tidak ada praktik penimbunan di Bantul secara umum. Lagipula, minimnya stok beras juga karena banyak petani yang gagal panen.Ngatini, seorang pedagang beras di Pasar Piyungan berharap harga beras segera kembali normal. Karena, konsumen kerap mengeluhkan tingginya harga beras belakangan ini. “Setelah panen nanti harapannya ya segera turun harganya. Selain itu pasokan beras juga bisa lancar kembali,” jelasnya. (zam/din/ong)