JOGJA – Upaya kejaksaan mengeksekusi terpidana narkotika jenis heroin, Mary Jane, dipastikan mundur. Sebab, Mahkamah Agung (MA) telah resmi menerima surat penin-jauan kembali (PK) yang diajukan terpi-dana asal Filipina itu. Rencananya, MA menggelar sidang PK yang diajukan Mary 3 Maret mendatang.”Kami sudah membahas PK yang diajukan terpidana Mary Jane
Tim eksekusi menunggu in-struksi dari Kejagung dan menung-gu hasil PK tersebut,” ujar Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati DIJ Tri Subardiman SH kepada wartawan kemarin (25/2).Rapat diadakan Selasa malam (24/2) diikuti tim jaksa ekse-kusi asal Kejari Sleman dan Ke-jati DIJ. Jaksa menghargai upaya hukum yang ditempuh Mary Jane. Apalagi, sesuai perundang-undangan yang berlaku di In-donesia, terpidana memang memiliki hak untuk mengajukan upaya hukum berupa PK. “Karena grasi ditolah oleh pre-siden, terpidana Mary Jane ke-mudian mengajukan PK. Jika upaya hukum sudah habis, maka kami akan lakukan ekse-kusi,” tegas Tri.
Meski sidang PK baru akan digelar, tim jaksa eksekusi sudah mulai menyiapkan berbagai dokumen seperti putusan peng-adilan dan lain sebagainya. “Kami sudah siapkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan eksekusi,” jelasnya.Ketua Umum Gerakat Anti Narkotika (Granat) DIJ Feryan Nugroho mengatakan, pihaknya menghargai upaya PK yang di-ajukan Mary Jane. Namun de-mikian, upaya permohonan grasi yang pernah dilakukan Mary Jane kepada Presiden Jo-kowi adalah sebuah bentuk pengakuan kesalahan atas per-buatan yang disangkakan kepa-danya. “Orang mengajukan grasi itu minta ampunan. Berar-ti dia mengakui kesalahannya,” terang Feryan. (mar/laz/ong)