DWI AGUS/RADAR JOGJA
AKULTURASI: Dialog budaya dan gelar seni “Yogya untuk Semesta” di Bangsal Kepatihan, Jogja, Selasa malam (25/2). Acara ini dihadiri para tokoh dan seniman Jogja.
JOGJA – Akulturasi budaya Tionghoa de ngan budaya Jawa telah terjadi sejak ber abad-abad lalu. Pertemuan ini meng-ha silkan sebuah budaya baru yang memper-temukan dua perbedaan. Tidak hanya dalam hal seni, namun tatanan masyara-kat, sandang hingga kuliner.Penyebaran ajaran Islam pun dipercaya melalui para pedagang asal Tiongkok. Pendaratan di abad 7 di Banten dan Cirebon dipercaya sebagai awal mula menyebarnya agama Islam di Pulau Jawa
Dalam syiar ini pula terjadi pengenalan kekayaan budaya dari negeri tirai bambu tersebut.”Persinggungan dari abad-abad tersebut melahirkan suatu budaya yang baru. Perkawinan budaya begitu kental pada waktu itu antara Tiongkok dan Jawa. Pro-duknya juga beragam, dan tidak saling menutupi, tapi saling menguatkan,” kata pengasuh Yogya Semesta Hari Dendi.
Diskusi Akulturasi Budaya Ti-onghoa ini secara khusus dige-lar di Bangsal Kepatihan, Jogja, Selasa malam (25/2). Dalam diskusi ini hadir beberapa peng-amat dan pelaku seni budaya di Jogjakarta. Seperti guru besar filsafat Tiongkok Fakultas Filsa-fat UGM Prof Dr Lasiyo, MA, MM, sosiolog Fisip UAJY Suryo Adi Pramono dan pemerthati sejarah KH Muhammad Jazir ASP.
Hadir pula dalam kesempatan ini seniman tari Didik Nini Tho-wok. Didik yang memiliki nama lahir Kwee Tjoen Lian mengakui wujud akulturasi sangatlah kuat. Ini terlihat dalam beberapa ke-senian yang ada di Indonesia. “Bentuk akultutrasi ini juga meneguhkan bahwa Tionghoa sudah menjadi bagian dari In-donesia. Khususnya di Pulau Jawa, akluturasi sangat ber-kembang dengan pesat. Khu-susnya kesenian yang melahir-kan banyaknya karya yang indah,” kata Didik.
Sayangnya masih ada pan-dangan bahwa warga keturunan Tionghoa identik dengan bisnis. Didik mengungkapkan peran dalam memajukan seni sangat-lah tinggi. Namun catatan seja-rah kurang mendokumentasikan dengan baik. Sehingga rekam jejak warga keturunan Tionghoa kurang termonitor. KH Muhammad Jazir ASP me-nambahkan bahwa peta-peta ini perlu dilihat secara seksama. Termasuk bagaimana sejarah Islam bisa masuk ke Indonesia, khususnya Jogjakarta.
Beberapa ulama Tiongkok ini, lanjutnya, membaur dengan warga sekitar. Terutama membaur dengan warga Kampung Jogo-karyan, Jogja. Dia mengatakan, sejarah Indonesia juga turut dibangun oleh warga Tionghoa.”Banyak peristiwa yang terjadi yang melibatkan antara orang Jawa dan orang Tionghoa. Bah-kan Belanda pada waktu itu takut jika orang Jawa dan orang Tionghoa bersatu, sehingga disu-sun berbagai cara, salah satunya dengan politik adu domba,” ka-tanya.
Diskusi ini juga turut meraya-kan peringatan tiga tahun Ikrar Masyarakat Tionghoa pada tahun 2012. Sejatinya sebuah prasasti pun telah terukir di timur Bang-sal Trajumas, Keraton Jogja-karta pada tahun 1940. Ikrar ini dikuatkan dengan ikrar yang dilakukan pada tahun 2012 lalu.Ikrar yang ditandangani 18 Februari 2012 ini melahirkan empat butir.
Poin-poin ini di antaranya siap membela dan mempertahankan eksitensi dan kehormatan Keraton Jogjakarta dan Kadipaten Pakualaman se-bagai daerah istimewa. Lalu siap mempertahankan cirri khas keistimewaan DIJ di mana puncuk pimpinan kepala daerah dipegang Sri Sultan Ha-mengku Buwono dan Sri Paku Alam sesuai maklumat Presiden RI 5 September 1945. “Lalu menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan YME, merajut kebersamaan dan menolak se-gala bentuk tindak ketidakadilan dan intolerensi. Terpenting adalah siap menjaga semangat gotong royong, golong gilig dengan seluruh lapisan masyarakat DIJ,” tambah Hari. (dwi/laz/ong)