MAGELANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Magelang masih melakukan pendalaman terhadap dugaan korupsi pembangunan Pasar Rejowinangun. Untuk menuntaskan-nya, kejaksaan hasrus memanggil lagi pihak-pihak yang terkait. Di antaranya, Korps Adhyaksa memanggil kembali tiga orang pejabat Pemkot Magelang yang notabene pernah dimintai keterangan.”Soal kasus itu (Pembangunan Pasar Re-jowinangun), kami sedang lakukan pen-dalaman. Hari ini (kemarin), kami memang-gil tiga orang saksi,” kata Kepala Kejaksa-an Negeri (Kajari) Magelang James Fudhoil Yamin SH kemarin (25/2)
Pria yang belum genap sebulan menggantikan Tri Retno Sun-dari SH ini berjanji secepatnya menuntaskan kasus tersebut.”Kami akan terus dalami kasus tersebut,” janjinya.Seperti diketahui, pihak ke-jaksaan tengah melakukan penyelidikan terhadap pembangunan Pasar Rejo-winangun. Tidak tanggung-tanggung, penyelidikan kasus tersebut terpisah menjadi tiga perkara. Yakni, terkait pengelo-laan tanah milik Pemkot Mage-lang yang digunakan dalam pembangunan pasar kerja sama dengan investor, pembangunan pasar melalui DPU, maupun pembangunan pasar melalui Disperindagkop.Kasus yang diangkat sejak era Kasi Pidsus Mahfudin Cakra Saputra SH tersebut telah me-manggil beberapa pihak. Baik panitia lelang, tim penerima hasil pekerjaan (TPHP), tim pengawas, hingga pejabat pem-buat komitmen (PPK).”Kami sudah panggil 28 saksi untuk perkara dugaan korupsi pembangunan pasar melalui investasi. Kemudian delapan saksi dan 10 saksi untuk pembangunan yang melalui APBD serta APBN,” imbuh Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Magelang Roy Arland SH MH.
Rabu (25/2), tiga pejabat yang dipanggil adalah Kepala Bappeda Joko Suparno, Kepala Disdukca-pil RM Devananda, dan Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelo-laan Keuangan Daerah Larsita. Mereka diundang untuk dimintai keterangan oleh penyidik ke-jaksaan pada pukul 09.00. Hingga pukul 12.00 ketiganya tidak me-menuhi panggilan kejaksaan. “Iya, mereka belum datang hingga saat ini dan tidak ada keterangan,” kata penyidik.RM Devananda menegaskan, dirinya tidak bisa memenuhi panggilan kejaksaan, karena ada kepentingan dinas.”Lagian saya kan sudah dua kali diminta keterangan. Kete-rangan apa lagi yang masih ku-rang,” ujarnya.
Sebelumnya, beberapa pejabat Pemkot Magelang dimintai ke-terangan kejaksaan dalam taha-pan penyelidikan kasus tersebut. Mereka adalah Muji Rohman (Asisten Tata Pemerintahan Or-ganisasi dan Hukum), Larsita dan Isa Ashari (Kepala Dinas Peng-elolaan Pasar). Ketiganya dimin-tai keterangan pada era Kasi Pidsus masih dipegang Mahfudin Cakra Saputra SH.Kemudian, saat Roy Arland ma-suk Kejari Magelang pada per-tengahan Juni 2015, pihak ekse-kutif yang dimintai keterangan antara lain Kepala Disdukcapil RM Devananda, yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Pasar (DPP). Kemudian Asisten Eko-nomi Pembangunan dan Kese-jahteraan Rakyat Sumartono, yang pernah menjabat Plt Kepala Bap-peda, serta mantan Plt Kepala DPU Agus Susatyo, yang kini memilih pensiun dini.
Terakhir, kejaksaan meme-riksa pejabat sekelas eselon II adalah Kepala DPU Deddy Eko Sumarwoto.Dua minggu lalu, pejabat yang dimintai keterangan adalah Ch Yonas Nusantrawan Bolla, yang sekarang berposisi sebagai Kabid Bina Marga DPU. Kemudian ada nama Irwan Adhib dari Kantor Lingkungan Hidup, Ani Widyo-wati dan Tri Supriyanto dari Bappeda.Pembangunan kembali Pasar Rejowinangun yang terbakar 26 Juni 2018 menggunakan tiga sum-ber dana. Yakni swasta, APBD, dan APBN. Dana swasta atau investa-si senilai Rp 29,8 miliar digunakan untuk pembangunan toko dua lantai dan kios pasar oleh investor. Yakni, PT Kuntjup-PT Putra Wahid Pratama (JO) Salatiga.
Sedang pembangunan los pasar dua lantai dilaksanakan PT Ar-mada Hada Graha (AHG) Magelang dengan APBD 2012 dan 2013 (multi years) senilai Rp 63,3 mi-liar, melalui DPU. Untuk dana APBN digunakan Pemkot Magelang melalui Dinas Koperasi Perindu-strian dan Perdagangan (Disko-perindag) dalam Proyek Pembangu-nan Pasar Rejowinangun Sisi Se-latan atau biasa disebut tugas perbantuan (TP) Kementerian Perdagangan senilai Rp 6,5 miliar. Proyek ini juga dilaksanakan PT AHG. (dem/hes/ong)