DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
TERBENTUK NATURAL: Sinta Ravitasari dengan beragam koleksi batu akik, di antaranya masih berbentuk bongkahan. Sinta saat ditemui di Casa Casinta Art Gallery kemarin.

Ratu Kidul Warisan Kakek hingga Berburu ke Australia

Tak hanya warna dan kemilaunya yang menyilaukan mata, tapi harga dari batuan mulia juga bikin geleng-geleng kepala. Apalagi ada bentukan unik yang membuatnya hanya jadi satu-satunya di dunia. Seperti batu quartz milik Sinta Ravitasari. Batu warisan sang kakek ini memiliki semburat bentuk yang diyakini mirip sosok Nyi Roro Kidul.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
SIANG itu cuaca cukup panas ketika Radar Jogja melaju ke daerah Tirtodipuran, Jogja. Tapi rasa sumuk segera hilang ketika kaki melangkah masuk ke Casa Casinta Art Ga-llery. Dengan arsitekturnya yang membiar-kan udara bebas keluar masuk, udara sejuk masuk dari ruang terbuka berupa taman kecil di tengah ruangan. Sinta pun menyam-but dengan ramah, membiarkan minuman cola yang disajikan diteguk, sambil mulai bercerita soal koleksinya.
Batuan yang sedang jadi tren di kalangan masyarakat ini bukan sesuatu yang baru bagi wanita berusia 53 tahun. Sang kakek yang dikenal sebagai kolektor keris, rupanya menyimpan banyak batuan mulia. Sang ayah pun selalu mengenakan cincin akik. “Dulu taunya batu ya batu, belum tertarik ngumpulin seperti sekarang. Ternyata ba-tuan mulia itu punya warna indah yang memang terbentuk secara natural.Nama-namanya juga unik. Itu awalnya saya suka dengan batuan mulia,” ujarnya, sambil membuka-buka boks kecil koleksinya
.Di ruang tengah yang dipenuhi lukisan dan patung-patung binatang, Sinta memperke-nalkan satu per satu koleksinya. Kecintaan-nya pada bentuk dan warna batuan mulia juga ditularkan dari sang suami, Carlos De Haas
Setelah menikah dengan le-laki berdarah Australia tersebut, intensitas ke negeri kanguru itu pun menjadi lebih sering. Di sanalah ia sering dibawa melihat-lihat pameran batu mulia dari berbagai negara oleh sang suami.Ketertarikan pada batuan alam pun semakin besar. Apalagi di-rinya mengetahui sang kakek memiliki beberapa koleksi yang tersimpan rapi hingga beliau mewariskan pada anak dan cucunya.
Termasuk batu quartz yang di dalamnya membentuk sesosok wanita dengan rambut panjang terurai, yang diyakini itu merupakan sosok Nyi Roro Kidul. “Tidak tahu juga ini berasal dari mana. Tapi ini salah satu koleksi kakek yang saya simpan. Kalau diamati dengan jelas, apa-lagi di bawah sinar matahari atau cahaya, sosok wanita dengan rambut panjang terurai akan lebih jelas,” ujar Sinta yang juga menunjukkan referensi lukisan Nyai Loro Kidul karya Basuki Abdullah.
Warisan batu ini juga sempat dipamerkan saat pameran batu mulia. Orang yang berdatangan pun dibuat penasaran. Bahkan ada yang sudah berani menawar harga. “Dulu kalau ada yang mau Rp 125 juta saya lepas nggak papa. Tapi kalau nawar, sa ya ngga k kasih,” ujar perempuan yang juga menyimpan cincin batu bergambar kuda dan berang-be rang warisan sang kakek.Koleksi batu miliknya kini su-dah tidak terhitung jumlahnya.
Ia memang lebih suka membe-li dalam bentuk asli, atau bong-kahan batunya. Baru ketika di-rinya ingin mengolahnya menja-di batu perhiasan, batu itu baru dipotong dan dibentuk. Dengan koleksi yang begitu banyak, diri-nya tidak menolak jika ada orang yang datang dan menaruh har-ga pada koleksinya.”Dulu waktu belum booming seperti sekarang, ada yang lihat terus beli, ya malah saya kasih bonus batu yang kecil. Kalau se-karang ya dieman-eman. Tahun 1997 saya pernah jual Black Opal yang saya beli di Australia ke tu-ris Austria, waktu itu harganya Rp 175 juta, kalau sekarang har-ga segitu tidak dapat, “paparnya.
Tanzanite, Black Opal, Kecu-bung, Jamrud, dan berbagai je-nis batu mulia lainnya dia dapat dari hasil berburu ke Surabaya, Bali, Solo hingga Australia. Ke-indahan warnalah yang pertama membuat ia akhirnya memu-tuskan untuk mengoleksi atau tidak. Banyak koleksi batunya masih dalam bentuk asli yang belum dipotong, dibentuk dan dihaluskan. Ini supaya orang yang datang dan ingin lebih tahu soal batuan mulia bisa tau bentuk aslinya.”Bentuk aslinya memang se-perti ini, malah sempat ada yang tanya ini bagaimana nempelnya. Padahal ini dari alamnya ya ter-bentuk seperti itu,” ujarnya.
Tak dipungkiri, bicara batuan mulia tak terlepas dari soal kle-nik. Menurutnya, semua hal memiliki kehidupan, demikian halnya dengan batu. Tapi tetap yang terutama adalah percaya kepada Sang Pencipta. Tapi tidak ada ritual apa pun untuk men-jaga koleksinya. Seperti mem-berikan kembang atau dupa. Baginya, itu hanya sebuah tra-disi sebagai bentuk penghorma-tan kepada leluhur. “Selebihnya tidak. Bagi saya itu sebuah tradisi saja. Mem-beri kembang dan dupa, itu bentuk penghormatan kepada leluhur, bukan kepada batunya,” ujarnya.
Sekian tahun menyimpan ba-tuan mulia, ada kisah menarik yang dialami dirinya dan kelu-arga. Tepat malam sebelum gem-pa 2006, seusai minum kopi ber sama di sore hari, sang sua-mi melihat sesosok perempuan tu run dari tangga dan kemu-dian berjalan keluar rumah.”Dia kira anakku yang keluar rumah tapi nggak pamit. Lalu besoknya gempa. Baru besoknya kita baru sadar, mungkin yang dilihat suamiku itu bayangan Nyi Roro Kidul, karena saat gempa koleksi batu saya banyak yang jatuh dan pecah, tapi batu Ratu Kidul nggak lecet sedikit pun,” ujarnya. (*/laz/ong)