ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
LENGANG: Inilah rumah kost milik Sri Mastuti, yang menjadi lokasi penyekapan dan penyiksaan terhadap Laras Aprilia Arisandi, 18 beberapa waktu lalu.
BANTUL – Sri Mastuti, pemilik indekos yang menjadi lokasi penyekapan dan penyiksaan terhadap Laras Aprilia Arisandi, 18, bersedia menutup usahanya. Tak hanya itu, warga Pedukuhan Saman, Bangunharjo, Sewon tersebut juga menyanggupi mengurus dan melengkapi berbagai legalitas dokumen bangunan indekos dua lantai yang berisi 35 kamar miliknya itu. Hal tersebut terungkap saat Sri Mastuti memenuhi panggilan Satpol PP Bantul, kemarin (25/2).”Saya juga bersedia membina hubungan baik dan harmonis dengan warga,” tulis Sri dalam surat pernyataannya.
Ya, selain terganjal persoalan dokumen izin mendirikan bangunan (IMB) dan izin gangguan (HO), keberadaan indekos Belimbing tersebut juga pernah diadukan warga karena ulah para penghuninya. Dalam surat No 01/Smn/BH/II/2015 warga meminta pemkab segera menutup kos. “Aduan warga juga menjadi pertimbangan kami,” tegas Kabid Penegakan Perda Satpol PP Bantul Anjar Arintaka.
Ada pun penutupan kos secara resmi tertuang dalam surat perintah penutupan No.300/142/ tertanggal 25 Februari. Dalam surat yang ditandatangi Kepala Satpol PP Bantul Hermawan Setiadji memerintahkan penutupan indekos per 25 Februari. Penutupan ini berlaku sampai pemilik indekos melengkapi berbagai dokumen legalitasnya sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku. “Dasar surat perintahnya adalah perda No.05/2011 tentang Bangunan Gedung, Perda No.09/2014 tentang Perubahan atas Perda No.06/2011 tentang Izin Gangguan, serta Perda No.14/2011 tentang Perizinan Usaha Bidang Perindustrian dan Perdagangan,” urainya.
Selain pemilik indekos, surat perintah ini juga ditembuskan kepada sejumlah pihak. Antara lain, bupati Bantul, sekretaris daerah, Kapolres, kepala dinas perizinan, camat Sewon, lurah Bangunharjo, dukuh Saman, serta ketua RT 10 Saman. Anjar menerangkan, hingga kemarin indekos Belimbing masih dihuni sembilan orang. Mereka diberikan waktu hingga dua minggu untuk berkemas dan mencari tempat tinggal baru. “Pemilik sudah mengembalikan uang kosnya,” tambahnya.
Bupati Bantul Sri Surya Widati mengaku prihatin dengan insiden yang melibatkan kalangan pelajar ini dan berharap kasus penyekapan dan penyiksaan ini tidak men-coreng citra pendidikan DIJ. “Pembahasan Raperda tentang kos semoga bisa disisipkan dalam Prolegda 2015 karena memang sangat mendesak,” tandasnya. (zam/din/ong)