HENDRI/RADAR JOGJA
Martono
KULONPROGO – Ketua Wahana Tri Tunggal (WTT) Martono terlihat hadir dalam konsultasi publik ulang yang digelar tim Persiapan Pembangunan Bandara Baru (P2B2) di Kecamatan Temon, kemarin (26/2). Tokoh WTT itu datang bersama sekitar 160 warga WTT lainnya dengan membawa setumpuk formulir yang berisi penolakan.”Kami yang diundang sepakat datang dalam konsultasi publik ulang kali ini. Formulir kami isi penolakan. Ini sebagai bentuk tertib administrasi,” terang Martono dengan sederet penjelasan yang cukup diplomatis.
Langkah yang diambil Martono dan warga WTT lainnya dengan mendatangi proses konsultasi publik kali ini membuat suasana jauh berbeda. Terlebih, setiap ada konsultasi publik, ratusan warga WTT biasanya memilih datang untuk unjuk rasa. Namun kali ini mereka hadir sangat tertib, dan menandatangani lembar absensi konsultasi publik ulang tersebut.Tim P2B2 menyambut baik sikap WTT. Kendati kedatangan warga WTT tidak untuk menyatakan sepakat atau setuju dengan rencana pembangunan bandara. WTT datang menyerahkan setumpuk formulir kepada tim yang berisi pernyataan penolakan secara tertulis.
Martono bersama warga WTT lainnya datang ke kantor Ke-camatan Temon sekitar pukul 10.00. Mereka datang dan ber-kerumun di luar pagar kantor Kecamatan. Polisi dan TNI berjaga di sekitar lokasi. Selang beberapa saat Martono dan sejumlah pengurus WTT mewakili warga menemui tim dan menyerahkan formulir berisi penolakan bandara.Petugas dalam konsultasi publik menerimanya, kemudian me-manggil satu per satu nama warga sesuai data formulir yang di-serahkan. Sementara, warga WTT lain yang belum dipanggil rela menunggu dengan tertib di luar pagar. Satu per satu warga melakukan konsultasi di meja petugas.
Namun, tampaknya proses itu berjalan sangat singkat, lantara setiap warga yang dipanggil di meja hanya menyatakan ke-tidaksepakatan berikut alasannya kepada tim persiapan. Tertulis dalam formulir pernyataan keterangan tidak sepakat, dengan alasan tidak ingin menjual tanah hak milik karena merupakan warisan untuk anak dan cucu.Begitu pula saat Ketua WTT Martono dipanggil dan masuk ruang konsultasi, ia hanya menyatakan sesuai isi formulir yang ditulisnya. “Kami datang tapi isinya tetap menolak. Karena dalam formulir tidak ada pilihan penolakan, maka kami isi pernyataan tidak sepakat,” ujar Martono.
Martono mengungkapkan, ia adalah warga yang memilik tanah hak milik di pedukuhan Kragon II Desa Palihan. Luasannya sekitar 2.000 meter persegi. Menurutnya, kebanyakan warga WTT menolak karena mempertahankan tanah hak milik. Sementara, warga penggarap hanya sebagian kecil saja.”Keputusan bersama untuk hadir konsultasi publik ulang kali ini merupakan hasil pemikiran yang berkembang. Alasan penyampaian secara administratif atau tertulis, kami tunjukkan bahwa WTT ada. Kami ikuti. Kami menolak tanpa syarat,” ungkapnya.
Martono mengungkapkan, WTT memang akhirnya sampai pada pertimbangan untuk melangkah sesuai prosedur dan undang-undang. Sebagaimana disebutkan tim persiapan sebelumnya, jika tidak hadir apalagi tidak me-nyatakan sikap dalam formulir, mereka bisa dianggap setuju.”Namun pemerintah tidak boleh memaksakan kehendaknya. Jika serta merta izin penetapan lokasi bandara terbit, WTT akan meng-gugatnya. Pernyataan menolak secara tertulis itu pula yang akan menjadi modal dan bukti dalam gugatan,” ungkapnya.
Menurut Martono, dengan formulir yang kami serahkan, tim nantinya akan menyampaikan penolakan dan keberatan warga ke Gubernur HB X. “Silakan pemerintah cermati. Lahan kami selain untuk pertanian juga ada tambangnya, jadi menurut kami tidak cocok untuk bandara,” ujarnya. (tom/ila/ong)

Akan Digelar selama Tiga Hari

SEMENTARA ITU, Pelaksana tugas Pimpinan Proyek Bandara Baru dari Angkasa Pura I Eko Bambang memaparkan, tingkat kehadiran dalam konsultasi publik ulang hari pertama cukup me-muaskan. Berdasarkan formulir yang diserahkan WTT, jumlahnya ada 60 keluarga. Namun saat konsultasi publik kemarin, lima di antaranya tidak hadir dengan keterangan sakit.”Ini sudah sesuai dengan harapan, mereka (WTT) hadir. Mau keberatan atau sepakat yang penting hadir. Soal penolakan akan pengaruhi IPL atau tidak itu akan menjadi ranah tim kajian,” ucapnya.
Sementara, Tim Community Development Pembangunan Bandara sekaligus Humas Tim P2B2 dari Angkasa Pura I Ariyadi Subagyo menyebutkan, proses konsultasi publik ulang akan digelar selama tiga hari. Berlokasi di Kantor Kecamatan Temon dengan mengundang sedikitnya 460 warga.Kesemuanya adalah warga yang belum hadir atau keberatan dalam konsultasi publik sebelumnya. Pelaksaan konsultasi publik kali ini warga yang diundang sebanyak 152 warga, hadir sebanyak 111 warga, sepakat ada 41 warga, keberatan terdapat 68 warga dan dua warga tidak melapor ke meja petugas. “Warga WTT yang belum datang dalam kesempatan kali ini, sudah berkoordinasi melalui ketuanya dan bisa datang dalam konsultasi publik ulang tanggal 3 dan 4 Maret 2015 mendatang,” terangnya. (tom/ila/ong)