GUNAWAN/RADAR JOGJA
DITANGKAP: Sejumlah tersangka tertunduk lesu saat polisi menggelar jumpa pers, kemarin (26/2).
GUNUNGKIDUL – Aksi me-resahkan sejumlah pelaku kriminal lintas provinsi dihenti-kan jajaran kepolisian Polres Gunungkidul. Beberapa pelaku ditangkap tanpa perlawanan, namun sebagian berani melawan sehingga dihadiahi timah panas.Aksi penjahat tersebut ter-bongkar dari kasus pembobolan Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) Pondok Pesantren An Nur Karangmojo, belum lama ini. Komplotan terdiri dari Heru Setiyono alias Cendol, 46, Heri Susanto, 40, Suparno, 37, dan Tugimin, 42, merupakan spesialis pencurian BMT.Wilayah operasi mereka lintas kota dan provinsi.
Komplotan tersebut juga terindikasi sebagai dalang pencurian di Surakarta, Sukoharjo, Karanganyar di Jawa Tengah hingga ke Gunungkidul dan Bantul.Kapolres Gunungkidul AKBP Hariyanto mengatakan, dari keempat pelaku, tiga di antaranya merupakan residivis. Sementara Heri Susanto merupakan pemain baru, bekerja sebagai sopir ambulans.”Dari hasil pengembangan, inisial H (Heri) diduga ikut men-dalangi pembunuhan juragan sapi di Wonogiri,” kata Hariyanto usai menggelar jumpa pers dengan wartawan, kemarin (26/2).Guna pengembangan lebih lanjut, para tersangka sempat dipinjam beberapa Polres lain di wilayah yang diduga menjadi area operasi komplotan ini. “Kemarin malam, beberapa pelaku dipinjam petugas di Polres Sukoharjo. Sebab, di sana juga sedang pengembangan pencurian BMT senilai ratusan juta rupiah,” terangnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Gunungkidul AKP Herry Suryanto menegaskan, komplotan itu sudah sangat lihai. Dari hasil penyidikan, keterangan mereka sering berubah-ubah. Dari awal penangkapan, sudah meng-indikasikan pemain lama. “Sebab, saat pengejaran mereka banyak membuang alat bukti, dengan tujuan menghilangkan kecurigaan polisi,” kata Herry.Hingga sekarang pemeriksaan intensif terus dilakukan. Tidak menutup kemungkinan, akan melibatkan tersangka baru. “Untuk pengembangan, kita juga bekerja sama dengan Polres lain. Sebab pencurian sudah lintas kota dan provinsi,” bebernya.
Salah seorang pelaku, Heri Susanto berdalih bergabung dalam komplotan penjahat lantaran terdesak kebutuhan ekonomi. Dia mengaku terdesak utang senilai Rp 25 juta. “Saya bingung karena angsuran motor belum terbayar dan utang sudah menumpuk. Saat diajak, saya langsung mengiyakan, karena kebetulan saya hanya ditugasi sebagai sopir,” ucapnya. (gun/ila/ong)