FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
HAPPY ENDING: UPTD Pasar Rejowinangun mempertemukan subkontraktor pembuatan sekat antarlos dengan CV Trikarya Indah selaku kontraktor utama dan P3RM.
MAGELANG – Sempat molor dari janji awal Jumat (20/2), Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar Rejo-winangun akhirnya melakukan me-diasi kemarin (27/2). Pihak UPTD mempertemukan subkontraktor pem-buatan sekat antarlos dengan pintu rolling door dengan CV Trikarya Indah selaku kontraktor utama dan Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Mage-lang (P3RM) yang diketuai Heri Setia-wan.Pada pertemuan tersebut, hadiri pula Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Rejowinangun “Rejotama” Nasirudin Hadi dan Sekretaris Samsudin.
Pertemuan dipimpin Kepala UPTD Pasar Rejowinangun Purwadi di kan-tornya. Tujuannya memediasi subkon-traktor dengan pihak Trikarya dan P3RM. “Intinya, kami memediasi pihak ter-kait, juga menyampaikan ke Trikarya dan P3RM, bahwa pihak subkontraktor yang dalam hal ini diwakili Pak Fajar telah melaksanakan pekerjaannya dalam pembuatan sekat antarlos. Persoalan-nya, subkontraktor belum dibayar, sehingga akhirnya ada kejadian Rabu (12/2) lalu. Yakni, pencopotan rolling door oleh subkontraktor,” papar Pur-wadi.Menurut Purwadi, dalam pertemuan tersebut, baik pihak Trikarya maupun P3RM mengaku ada tumpang tindih dalam pelaksanaan pembuatan sekat. Antara lain, adanya order dengan surat perintah kerja (SPK) rolling door. Namun dalam pelaksanannya, subkontraktor memasang folding gate
Juga adanya tumpang tindih antara order dengan pem bayaran dan lainnya.”Karena adanya tumpang tindih tersebut, pihak Trikarya dan P3RM mau cocok-cocokan data dulu. Mereka minta waktu seminggu,” ungkapnya.Selama pencocokan data ter-sebut, UPTD meminta agar sub-kontraktor agar tidak lagi me-lakukan pembongkaran los. Karena dampaknya meresahkan pedagang.”Bagaimanapun pedagang sudah melaksanakan kewajiban dengan membayar pembuatan sekat los baik kredit maupun cash. Sehingga pedagang butuh nyaman dalam berjualan. Yakni dengan tidak adanya pembong-karan,” pinta pria yang sebelum-nya kepala UPTD Pasar Gotong Royong ini.
Pihak subkontraktor sepakat dengan keinginan UPTD, agar tidak ada pembongkaran saat proses pencocokan data.”Tapi kami juga butuh jaminan, minggu depan sudah ada pem-bayaran. Kalau masih ada lagi alasan atau penundaan lagi, jangan salahkan kalau kami melakukan pembongkaran ba-rang kami yang belum dibayar,” tegas Fajar Adi Nugroho me wakili pihak subkontraktor.
Direktur CV Trikarya Indah Eko Hadi Pranowo membenarkan, saat ini masih ada perbedaan perhitungan antara yang pihaknya miliki dengan P3RM. Di antara-nya, soal jumlah los yang di-laksanakan penyekatan, pe-nerimaan dana dari pedagang dari P3RM juga aliran dana. “Ada aliran dana pedagang yang harusnya oleh P3RM disetor ke kami. Tetapi, oleh Mas Heri di-langsungkan ke pihak sub-kontraktor,” jelasnya.
Heri Setiawan tidak mem bantah kalau perbedaan soal jumlah los yang dipasangi sekat dan pe-nerimaan dana antara pihaknya dengan Trikarya. Termasuk soal aliran dana pedagang yang seharusnya melalui Trikarya, tetapi dilangsungkan ke subkon-traktror.”Iya soal aliran dana tersebut memang kami salah. Tetapi maksudnya saat itu, karena butuh percepatan. Pedagang ingin se-gera masuk ke pasar dan ingin losnya segera jadi. Sehingga memunculkan ide kami (P3RM) untuk memodali subkontraktor,” paparnya.
Nasirudin Hadi berharap pro-ses rembukan antara Trikarya dan P3RM segera ada titik temu dan kesepakatan. “Baik soal los maupun uangnnya,” ujarnya.
Seperti diketahui, tidak kunjung dibayar bahan dan biaya pe-masangannya, dua subkontrak-tor Fajar Adi Nugroho SH dan Supardji mencoba membongkar rolling door yang terpasang di los lantai 2 Pasar Rejowinangun. Aksi tersebut dihalang-halangi beberapa pedagang yang me-rasa telah melakukan pem-bayaran, melalui kredit di bank maupun P3RM.Purwadi, selaku kepala UPTD berjanji mempertemukan sub-kontraktor dengan pihak terkait, soal pembayaran rolling door.
“Saat pertemuan 11 Februari lalu, kami berjanji memper-temukan subkontraktor dengan Pak Eko (Eko Hadi Pranowo, selaku Direktur CV Trikarya Indah) dan Mas Heri (Heri Se-tiawan) pada 20 Februari. Biar mereka genah-genahan sendiri soal pembayaran pemasangan rolling door. Akhirnya batal, karena ada sosialisasi retribusi dengan pedagang,” ungkap Pur-wadi saat itu. (dem/hes/ong)