FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
Peduli: Wali Kota Sigit Widyonindito didampingi Direktur RSUD Tidar dr Sri Harso mengunjungi korban angin lisus yang dirawat di ICU RSUD Tidar.
MAGELANG – Pemkot Magelang belum memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun, ini tidak membuat lumpuh daerah yang dijuluki Kota Sejuta bunga ini. Terutama, pascabencana alam hujan lebat disertai angin kencang, Kamis lalu (26/2). Karena, jajaran Pemkot Magelang cepat turun. Selain itu, Sekda Sugiharto langsung memerintahkan pimpinan SKPD maupun BUMD mengerahkan personilnya. Mereka melakukan kerja bakti di seluruh penjuru kota dengan prioritas di lokasi terjadinya bencana alam
“Semua pejabat maupun staf di SKPD dan BUMD telah di-perintahkan kerja bakti di lo-kasi bekas bencana. Hasilnya bagus. Karena kondisinya se-karang sudah bisa dikatakan normal,” kata Sekda Sugiharto kemarin (27/2).
Salah satu SKPD yang melak-sanakan perintah adalah Badan Kesbangpolinmas. Mereka mengerahkan pasukan inti untuk membersihkan pohon dan baliho tumbang. Salah satunya di Jalan Diponegoro, tepatnya di depan Rumah Dinas Ketua DPRD Kota Magelang.”Ada satu baliho dan pohon yang tumbang berhasil di-pindahkan. Kebetulan pelatih pasukan inti, yakni Peltu Sudiro juga ikut,” ungkap Kasi Trantib Linmas dan Penanggulangan Bencana Sigit Budianto.
Sementara itu, Wali Kota Sigit Widyonindito memilih berkun-jung ke korban angin lisus yang dirawat di ICU RSUD Tidar. Wali kota ditemani Direktur RSUD Tidar dr Sri Harso sempat me-nyaksikan korban Bambang Triono, 46, warga asal Paten Gunung Rejowinangun Selatan, Magelang Selatan yang harus pindah ke RST dr Soedjono un-tuk menjalani operasi bedah saraf.”Betul, pak Bambang ke-mungkinan harus dioperasi, karena menderita gegar otak. Dari kemarin tidak sadarkan diri. Peralatan kami tidak lengkap, sehingga harus dipindah ke RST. Kalau pasien satunya atas nama Sri Handoyo Bekti sudah pulang dan jalani rawat jalan,” kata Sri Harso.
Soal biaya pengobatan kedua korban, baik Bambang Triono dan Sri Handoyo, wali kota men-jamin ditanggung pemkot. Ia minta rumah sakit menangani-nya dengan sebaik mungkin.”Pemerintah turut prihatin atas bencana alam yang tidak ter-duga ini. Pengobatan korban ditanggung pemerintah. Yang penting, mereka harus bisa sem-buh kembali,” pintanya.
Wali kota mengaku, pemerintah tengah mendata dan menghitung kerugian yang diderita. Ini di-lakukan sembari memantau dan mengevaluasi aneka pohon yang dinilai menghawatirkan serta berpotensi tumbang, ketika ben-cana angin kencang datang lagi.”Kalau ada pohon yang se-kiranya membahayakan, segera saja dipangkas. Termasuk baliho yang secara konstruksi kurang baik, segera diperbaiki sebelum kejadian serupa terulang lagi,” katanya.
Di sisi lain, Asih mengaku sedih dengan kondisi suaminya, Bambang Triono yang terbaring koma di ruang ICU RSUD Tidar Kota Magelang. Suaminya men-derita gegar otak, karena ter-timpa pohon tumbang akibat angin ribut. “Dari kemarin Kamis hingga hari ini (kemarin), bapak belum sadarkan diri. Kata dokter men-derita gegar otak dan harus menjalani operasi bedah saraf. Lalu dirujuk ke RST dr Soedjono,” ungkapnya.Asih mengemukakan, suaminya setiap hari jualan rosok keliling Kota Magelang. Nahas, saat ter-jadi angin ribut, ia tertimpa pohon tumbang di Jalan Pemuda (Pe-cinan). Ia dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif. (dem/hes/ong)