ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
PRIHATIN:Muhammad Thosim menunjukkan surat penagihan hutang dari salah satu rumah sakit pelat merah di DIJ.
SEWON – Istilah popular orang miskin dilarang sakit sepertinya pas untuk mengilustrasikan nasib yang dialami Muhammad Thosim. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh bangunan ini terbelit hutang kepada salah satu rumah sakit pelat merah besar di DIJ. “Jumlahnya sangat besar, Rp 15.781.750,” jelas Thosim menyebutkan nominal hutang yang harus dibayar saat ditemui di rumahnya yang terletak di Sorogenen, Timbulharjo, Sewon, kemarin (27/2).Hutang ini muncul setelah putri pertamanya menjalani perawatan dan masuk rumah sakit pada pertengahan Agustus tahun 2009. Hampir selama sebulan balita bernama Eva Mubinatul Khusniah yang menderita liver dan penyakit komplikasi ini menjalani perawatan. “Total biaya perawatan Rp 40 juta,” sebutnya.
Beban biaya perawatan yang harus dibayar Thosim berkurang setelah mendapatkan ‘subsidi’ dari Jamkesmas sebesar Rp 15 juta. Kemudian, dia mengangsur hingga tersisa hutang kepada rumah sakit sebesar Rp 15 juta. Namun demikian, putri pertamanya itu akhirnya meninggal dunia pada Oktober tahun lalu.”Belum tahu biaya pelunasan dari mana,” ujarnya.Ya, dalam jangka waktu 12 bulan ke depan Thosim harus segera melunasi hutang ini. Sebab, panitia urusan piutang negara telah melayangkan surat peringatan kepadanya. Jika tidak terlunasi, pihak rumah sakit akan menyita harta benda miliknya senilai hutang.Thosim mengaku sebenarnya ingin melunasi hutang kepada rumah sakit ini. Hanya saja, keterbatasan ekonomi membuatnya tak berdaya. “Ingin menjadikan rumah ini sebagai jaminan juga nggak bisa karena milik orang tua,” keluhnya. Dia tidak mengetahui berkas yang dia tandatangani sejatinya adalah bentuk kesepakatan adanya piutang. Kala itu, dia tak memiliki kesempatan mencermati materinya. (zam/din/ong)