illustrasi
JOGJA – Di tengah serbuan pasar modern, keberadaan pasar tradisional di Kota Jogja tetap terjaga. Bahkan bisa menjadi inspi-rasi dan tempat belajar. Hal itu pula yang dirasakan Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) yang mengaku sering berbelanja ke pasar tradisional bersama keluarga.”Kami sekeluarga sering belanja ke pasar tradisional. Bahkan di pasar tradisional juga mendapatkan pengetahuan baru, semisal tentang batik,” ujar HS seusai penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba karya tulis “Blusukan Pasar” (27/2). HS mengatakan di pasar tradisional dirinya bisa mendapatkan penjelasan tentang produk yang akan dibe-linya secara langsung ke pedagang.
Hal seperti itu, lanjut dia, tidak bisa dite-mukan saat berbelanja di pasar modern. Orang nomor satu di Pemkot Jogja ini men-gatakan, saat berbelanja di pasar modern tidak bisa berinteraksi dengan penjualnya, karena hanya dilayani para karyawan. Selain itu juga tidak bisa menawar harga ka-rena sudah dipasangi label. “Di pasar tradi-sional kita bisa ketemu bakule, nyang-nyangan rego, kadang nempil barang juga,” terangnya. HS pun menyambut baik upaya yang dila-kukan Dinas Pengelolaan Pasar (Dinlopas) Kota Jogja yang menyelenggarakan lomba karya tulis tingkat mahasiswa. Dirinya berha-rap, para mahasiswa ini blusukan ke pasar tidak hanya untuk keperluan tulisan saja, tapi juga untuk berbelanja kebutuhan. “Harapanya hasil karya tulis ini bisa men-jadi masukan untuk pengembangan pasar tradisional,” terang HS yang menambah hadiah satu unit sepeda kepada juara per-tama lomba karya tulis itu
.Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Dinlopas Kota Jogja Rudi Firdaus menambah-kan, dalam lomba tingkat mahasiswa ini terda-pat 30 karya tulis yang masuk. Menurut Rudi, pihaknya mengarahkan para peserta untuk bisa mengangkat apa pun dari pasar tradisional. Dari 32 pasar tradisional di Kota Jogja, ter-dapat sembilan pasar tradisional yang dija-dikan objek penulisan seperti Pasar Lempuy-angan, Pasar Patuk atau Pasar Talok. “Senga-ja kami pilih pasar yang tingkat kunjungannya masih rendah, sehingga melalui lomba ini bisa dicarikan solusinya,” terang Rudi.
Menurut Rudi, lomba karya tulis tingkat mahasiswa ini merupakan bagian dari edu-kasi yang dilakukan Dinlopas Kota Jogja untuk mengenalkan pasar tradisional. Da-lam lomba karya tulis ini, tulisan Hetty Nur Isnaeni yang berjudul Pasar Strategis Dekat Jantung Kota – Rupa Modern Rasa Tradi-sional menjadi yang terbaik. Juara kedua diraih Mahmud Hidayat dengan karyanya yang berjudul Bersihku Rejekiku dan juara ketiga disandang Oni Putri dengan karyanya yang berjudul Eksistensi Pasar Tradisional di Tengah Kota. (pra/laz/ong)