DWI AGUS/RADAR JOGJA
WAYANG ORANG: Lakon Dredah Pringgondani, Kalatadah Murca yang menceritakan tentang Dewi Arimbi yang ingin menobatkan Gatotkaca sebagai raja di Pringgondani namun ditentang oleh adiknya sendiri.
SLEMAN – Konflik KPK dan Polri diangkat dalam sebuah lakon oleh Paguyuban Wayang Orang (WO) Panca Budaya dengan judul Dredah Pring-gondani, Kalatadah Murca. La-kon ini dipentaskan di Pendapa Dusun Blunyah, Trimulyo, Sle-man, belum lama ini.Sutradara pementasan Tukiran mengatakan konflik di Indone-sia memasuki masa yang kritis, di mana terjadi persaingan dan mengindahkan aturan konsti-tusional yang berlaku. Ini terli-hat dalam konflik yang terjadi antara dua lembaga besar ne-gara, KPK dan Polri.”Lakon ini sebenarnya gam-baran tentang pathokaning ne-gara kuwi dumunung ana angger-anggering negara. Artinya aturan-aturan konstitusi mulai diabaikan dan cenderung menga-rah ke kepentingan politik. Lem-baga yang harusnya mengayomi justru terlibat perseteruan,” kata Tukiran ditemui Minggu (22/2) lalu.
Menurutnya konflik ini justru mengorbankan perjuangan se-buah bangsa, di mana pihak yang dirugikan sejatinya justru ra-kyat kecil. Terlebih konflik ini, lanjutnya, berhubungan tentang perebutan kekuasaan. Sementara perselisihan yang terjadi seolah menemukan le-galitasnya. Menurut Tukiran, dendam antarindividu pengu-asa selalu jadi penyebab derita rakyat. Ini karena sejatinya ke-pentingan para penguasa yang saling berperang. “Lakon masa lalu tapi dekat dengan konflik yang terjadi saat ini. Dalam kisah masa lalu, perang seperti telah menjadi takdir yang tak bisa dihindari. Kalau dalam kisah zaman dulu perang tak bisa menghilangkan perasaan cinta, maka pada zaman kini perang tak bisa dilepaskan dari kepentingan politik dan eko-nomi,” kata Tukiran.Konflik berawal saat Dewi Arimbi yang diperankan Harta-tik ingin menobatkan Gatot-kaca diperankan Anter Asma-rateja sebagai raja di Pring-gondani. Rencana ini ternyata ditentang oleh adik Dewi Arim-bi, Brajadenta yang diperankan Widodo Kusnantyo.Sebab Brajadenta beranggapan, setelah Prabu Arimba tewas oleh Werkudara maka yang berhak naik tahta di Pringgandani ada-lah dirinya. Tapi Arimbi ber-pendapat lain yang disetujui hampir semua trah Braja.
Di saat seperti inilah muncul Patih Sengkuni yang diperankan Sukirno dan Resi Dorna yang dimainkan oleh Sarjiwo untuk memperkeruh keadaaan. Sema-kin bertambah ketika sebagian besar Kurawa turut membenar-kan sikap Brajadenta. Konflik saudara pun terjadi antara Bra-jadenta dengan Dewi Arimbi dan Gatotkaca.Di awal pertempuran Gatot-kaca kalah oleh bentakan Bra-jadenta. Munculah Dewi Su-miarsih yang diperankan Rini Widyastuti yang ternyata ada-lah jelmaan Keris Kalatadah. Keris ini adalah pusaka Pring-gandani yang raib beberapa waktu lamanya.”Sebenarnya ini hanya masa-lah internal yang bisa disele-saikan secara baik-baik. Namun ada perusuh seperti patih Seng-kuni dan teman-temannya. Ini yang harus dihindari dan jangan mudah terhasut seperti saat ini,” ungkap Tukiran menuturkan pesan dari lakon ini.Pementasan ini adalah kali kedua pentas Paguyuban WO Panca Budaya. Dalam setahun paguyuban ini merencanakan sepuluh kali pementasan di seluruh kabupaten dan kota di DIJ. (dwi/ila/ong)