JOGJA – Penyidikan kasus dugaan ko-rupsi pengadaan pergola di Kota Jogja mengalami perkembangan signifikan. Tim penyidik memastikan nilai keru-gian proyek senilai Rp 3,5 miliar itu bertambah. Hal ini diketahui setelah tim penyidik berkoordinasi dengan In-spektorat Jogja.”Penyidik akan menghitung ulang. Sebab, ada dugaan nilai kerugian lebih dari Rp 700 juta,” kata Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati DIJ Azwar SH kemarin.
Awalnya, penyidik menghitung nilai kerugian proyek di bawah lembaga Ba-dan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja itu sebesar Rp700 juta. Angka ter-sebut muncul dari ketidaksesuaian ha-sil pekerjaan dengan spesifikasi awal yaitu bahan material besi rangka media tanam pohon peneduh itu lebih tipis dari yang ditentukan.Setelah berkoodinasi dengan Inspek-torat Jogja terungkap adanya dugaan penyimpangan proyek. Ada dugaan ribuan unit pergola yang rencananya dipasang di berbagai titik di Kota Jogja banyak yang belum terealisasi. Padahal, BLH sudah membayar proyek itu ke-pada rekanan. “Kami minta hasil audit Inspektorat. Inspektorat menemukan adanya kelebi-han bayar. Nilai pastinya belum diketahui karena masih dihitung,” tambah Azwar.
Pada 12 Desember 2014 lalu Kejati DIJ menetapkan tiga orang sebagai ter-sangka yaitu Kepala BLH Kota Jogja Irfan Susilo sebagai kuasa pengguna anggaran, Suryadi sebagai Pejabat Pem-buat Komitmen (PPK), dan Hendi se-bagai rekanan.Untuk melengkapi berkas para ter-sangka, tim penyidik berencana me-manggil tersangka. “Berkas pemeriksa-an belum lengkap, sehingga belum bisa dilimpahkan ke pengadilan,” kata Kasi Penerangan Hukum Kejati DIJ Zul-kardiman SH. (mar/laz/ong)