DWI AGUS/RADAR JOGJA
MILIK ANAK BANGSA: Tari Pendet yang dibawakan sekitar 200 penari tidak hanya umat Hindu, tapi juga dari lintas agama.
SLEMAN – Mengawali Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1937 yang jatuh 21 Maret mendatang, umat Hindu di Jogjakarta menggelar sebuah agenda khusus. Diawali dengan ratusan penari yang memadati halaman Candi Prambanan, ke-marin pagi (1/3).Para penari wanita ini serempak menarikan tarian khas Bali, Tari Pendet. Mengenakan pakaian khas Pulau Dewata, lengkap dengan sesaji para penari ini terlihat luwes menari. Ketua Umum Panitia Hari Raya Nyepi Made Astra Tanaya mengungkapkan tarian ini simbol sebuah kerukunan.”Sesuai dengan tema Nyepi tahun ini yaitu, dengan semangat Hari Raya Nyepi tahun sakka 1937 umat Hindu membangun harmoni kesa-daran spritual dan budaya nasio-nal. Sehingga memupuk seman-gat spiritual sebagai landansan membangun budaya nasional,” ungkapnya.
Made Astra menambahkan, dengan tema ini diharapkan mem-upuk semangat kesatuan, di mana mampu menyelaraskan perbe-daaan menjadi sebuah harmoni yang indah. Bukan sebaliknya menyeragamkan dengan satu pola pemikiran yang dipaksakan.Tema ini tidak hanya berlaku bagi umat Hindu, namun juga mengajak seluruh warga Indone-sia. Menyinggung sejarah, Made Arya menilai Indonesia adalah negara yang kaya akan perbedaan. Sebuah potensi ikatan persatuan yang patut untuk dijaga.”Harmonisasi dan penyelarasan sehingga menjadi penguat lintas sektoral. Indonesia lahir dengan beraneka ragam perbedaan, jangan sampai dipaksakan untuk men-jadi sama,” tegasnya.
Menari masal Pendet ini meli-batkan sekitar 200 penari. Para penari ini tidak hanya umat Hin-du, namun juga dilakoni oleh lintas agama. Hal ini memiliki makna yang dalam. Karena mem-buktikan bahwa kebudayaan dae-rah tidak hanya menjadi miliki kedaerahan namun milik seluruh anak bangsa.”Inilah harmoni dan wujud kese-larasan dalam tarian. Pelaku seni dari siapa saja semua menjadi satu. Seni budaya adalah salah satu ran-tai kuat untuk menggalang persau-daraan,” katanya. (dwi/laz/ong)