HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
SERBA BISA: Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo tampil menjadi dalang dalam pagelaran wayang kulit dalam rangka sosialisasi LPS di Alun-alun Wates, Kulonprgo Sabtu malam (28/2).
KULONPROGO-Ada yang berbeda dalam pegalaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon “Semar Mbangun Karang Kadempel ” di Alun-alun Wates Kulonprogo, Sabtu malam (30/2) malam. Bupati Kulonprogo Hasto War-doyo ikut memainkan wayang di sela lakon yang dibawakan dalang Ki Seno Nugorho.Orang nomor satu di Kulonprogo itu sempat membabar penggalan cerita dalam lakon tersebut. Tepatnya saat pembangu-nan Astinapura yang diceritakan serupa dengan pembangunan megaproyek yang tengah dijalankan di Kulonprogo.
Bupati Hasto sempat mendalang selama 30 menit dengan memainkan tokoh Durna dan Sengkuni. Kedua tokoh wayang yang populer tersebut membicarakan soal pembangunan yang harus diikuti dengan revolusi mental dari warganya. Tidak hanya itu, dengan sangat jeli Bu-pati Hasto bahkan sempat menyisipkan program Bela Beli Kulonprogo dalam di-alog. Termasuk ikut menegaskan penting-nya menabung untuk masa depan. “Masyarakat Kulonprogo harus gemar mena-bung tanpa khawatir bank terlikuidasi sebab sudah ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menjamin simpanan nasabah. Selama menabungnya benar tidak perlu khawatir,” ungkap Hasto usai turun mendalang.
Apa yang disampaikan Hasto tidak terlepas dari agenda pagelaran wayang yang senga-ja digelar LPS yang tengah menyosialisasikan peran dan keberadaannya melalui pergela-ran wayang kulit semalam suntuk. Wayang kulit dipilih karena dinilai men-jadi media komunikasi yang sangat mera-kyat, dan hal itu terbukti dengan antusi-asme warga yang sangat tinggi mengha-diri pertunjukkan wayang kulit tersebut.”Kegiatan ini sebagai salah satu cara mendekatkan LPS kepada masyarakat umum. Pasalnya, sampai sekarang masih banyak orang yang belum paham tentang fungsi dan tugas LPS,” ucap Head of Public Relations LPS Aris Suseno.Aris menjelaskan, peran LPS sangat penting, yakni menjamin simpanan dan menjaga stabilitas perbankan sesuai dengan ke-wenangannya. Pasalnya, lembaga maupun instansi yang menjamin stabilitas perbankan bervariasi, termasuk salah satunya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memiliki peran masing-masing. “Melalui pergelaran wayang kulit semalam suntuk ini, kami sengaja me-nyisipkan peran dan fungsi LPS, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih gemar menabung di bank,” jelasnya
Menurut Aris, masyarakat tidak perlu kawatir bank dilikuidasi dan tabungannya akan lenyap, karena LPS menjamin sim-panan tiap nasabah sampai Rp 2 miliar per bank. Bahkan, Bank Perkreditan Ra-kyat (BPR) yang banyak muncul di daerah pun rata-rata sudah terdaftar dalam LPS. “Persayaratan simpanan yang dijamin LPS meliputi 3T, yakni tercatat di bank, tingkat bunga simpanan tidak lebih dari bunga LPS dan nasabah tidak menyebabkan kerugian bagi bank atau kredit macet,” ujarnya.
Ditambahkan Aris, sosialisasi peran dan tugas LPS dilakukan di banyak daerah dan bentuknya disesuaikan dengan kebudayaan setempat. “Seperti di Kulonprogo, antusiasme masyarakat terhadap wayang kulit tinggi jadi kami gunakan sarana ini untuk mengedukasi masyarakat tentang LPS,” imbuhnya.Dalang Ki Seno Nugroho mengungkapkan, ia juga masih baru mengenal LPS, sehing-ga butuh improvisasi dan mempelajari apa itu LPS sebelum naik ke panggung supaya pesan dapat sampai kepada masyarakat. “Untuk lebih gamblang menjelaskan, saya sengaja membuat dialog dengan pihak LPS untuk menjelaskan,” ungkapnya. Selain Ki Seno Nugorho dan Bupati Hasto, tampil juga dalang cilik Irfan Hasyim memainkan wayang kardus. (tom/din/ong)